Terkadang saya harus berurusan dengan berkas2 yang harus saya bawa kemana2, cara paling konvensional adalah dengan memasukannya ke dalam flashdisk, untuk sementara memang cara ini cukup efektif, karena sifatnya yg mobile, bisa dibuka dimanapun. namun kendala baru terasa apabila kita ingin mengsinkronisasi berkas yg ada di flashdisk tersebut dengan backup yang ada di hardisk, terkadang saya kebingungan perubahan berkas tersebut sebelah mana dan berkas mana yg paling baru? jangan sampai berkas yang up to date ditimpa oleh berkas lama, bisa berabe

Nah untuk mengatasi permasalahan tersebut akhirnya saya menemukan solusi yg cukup efektif dan menyenangkan, yaitu dengan menggunakan online backup storage, dengan online storage ini data saya disimpan di server penyedia layanan DAN di hardisk lokal saya, kemudian semua berkas yang ada di sinkronisasi antara server dan hardisk, setiap perubahan yang ada di hardisk juga turut merubah berkas yg ada di server, termasuk update, copy, move, rename, dll. intinya isi folder di hardisk saya sama persis dengan di server sehingga berkas yang saya miliki dijamin up to date, keuntungan lainnya adalah berkas di server tadi bisa juga diakses dari komputer lain (yang telah di beri izin akses tentunya) sehingga berkas yang ada di Komputer A dan komputer B akan sama persis dengan data yang ada di server. Melihat fitur seperti itu rasanya sangat cocok dengan kebutuhan saya yang terkadang menggunakan komputer desktop dan Laptop, dengan menggunakan layanan tersebut saya bisa berurusan dengan berkas yang sama walaupun menggunakan komputer yang berbeda.

Dari sekian banyak layanan online backup storage akhirnya saya kerucutkan menjadi 2 pilihan saja, yaitu Dropbox dan Ubuntu One. kenapa? berikut alasannya:

Ubuntu One

h1-ubuntuone-logoUbuntu One adalah layanan baru yang diberikan Canonical selaku sponsor dari proyek Ubuntu. Ubuntu One merupakan contoh implementasi dari konsep Cloud Computing dimana antara komputer lokal dan Internet (server) terhubung secara seamless. Layanan ini sendiri diluncurkan bersamaan dengan produk Ubuntu terbaru yaitu Ubuntu 9.10 (Karmic Koala) dan statusnya masih public beta, apabila kita menginstall Ubuntu baru ini, Ubuntu One Client secara otomatis telah terinstall, kita tinggal menggunakannya saja.

Ubuntu One menyediakan dua paket storage, gratis dan berbayar. Untuk layanan gratis, mereka menyediakan space sebesar 2 GB untuk penyimpanan berkas, sedangkan yang berbayar disediakan space sebesar 50 GB dengan biaya $10/bulan. Mau pilih yang mana? itu tergantung kebutuhan kita. cara penggunaannya cukup mudah, setelah kita memiliki account dan telah aktif, aplikasi ini terintegrasi dengan Nautilus (file manager) di Ubuntu, sehingga penggunaannya sama seperti menggunakan folder biasa, kita bisa meng-copy, paste, edit, move, rename, dll. sesuai kebutuhan, setiap perubahan secara otomatis di update pula ke server, misal kita memasukan satu berkas ke folder Ubuntu One, maka berkas tersebut akan turut di unggah (upload) juga ke server lengkap dengan struktur direktorinya yang sama persis dengan di hardisk kita. Proses update sendiri berlangsung secara background jadi kita tidak usah menunggu kapan dan bagaimana proses ini berlangsung, yang jelas sesegera mungkin.

Kelemahan dari Ubuntu One yang saya rasakan adalah aksesnya terkadang sangat lambat (malah tidak bisa terhubung), selain itu aplikasi client-nya juga kerap bermasalah. Ubuntu One juga hanya bisa diakses oleh komputer dengan sistem operasi Linux (khususnya Ubuntu) sehingga jika kita ingin mengakses dari komputer lain dengan sistem operasi yang berbeda agak kesulitan.

Dropbox

logoDropbox merupakan layanan yang sama persis seperti Ubuntu One yaitu layanan backup online yang bekerja secara seamless dengan storage lokal kita, cara penggunaanya pun sama yaitu terintegrasi dengan file manager, sehingga penggunaanya semudah mengelola berkas di hardisk kita. Proses update file juga berlangsung secara background sehingga kita tidak usah repot2 untuk mengupdate manual.

Fitur yang ditawarkan juga tidak berbeda jauh dengan Ubuntu One, bedanya dropbox menyediakan 3 paket layanan, Basic, Pro 50 dan Pro 100. Seperti halnya Ubuntu One, paket Basic yang gratis diberikan dengan space sebesar 2GB, paket Pro 50 ditawarkan dengan space 50 GB dan dengan harga yang (hampir) sama dengan Ubuntu One yaitu $9.99 saja untuk setiap bulannya. Jika dirasa masih kurang Dropbox menyediakan paket Pro 100 yang memberikan ruang sebesar 100 GB dengan harga $19.99/bulan.

Keunggulan Drobox dibanding Ubuntu One adalah aplikasi client-nya yang medukung multiplatform diantaranya Linux, Mac, Windows dan iPhone. keunggulan inilah yang tidak dimiliki Ubuntu One karena Ubuntu One hanya bisa digunakan dalam sistem Operasi Ubuntu saja. Selain itu akses ke server juga tergolong cepet dan stabil, sehingga apabila kita ingin berurusan dengan berkas yang cukup besar Dropbox dapat menanganinya dengan cukup cepat.

Pilihan

Oke, sekarang saatnya menentukan pilihan apakah Ubuntu One atau Drobox? dan pilihan saya jatuhkan ke Dropbox. Alasan pemilihan tersebut karena dalam keseharian saya biasa menggunakan dua buah komputer yang berlainan, yang satu sebuah Desktop PC dengan sistem operasi Linux Ubuntu dan satu lagi sebuah Macbook dengan sistem operasi Mac, tentu hanya Dropbox yang bisa bekerja dengan kedua OS ini, selain itu akses ke server yang relatif lebih cepat dan stabil juga menjadi pertimbangan. Status Ubuntu One sendiri yang masih Public Beta juga menjadi salahsatu faktor kenapa saya lebih memilih Dropbox, Ubuntu One masih banyak bug sana sini, sedangkan Dropbox sudah lama menjadi andalan orang banyak. Dilihat dari layanan yang ditawarkan pun relatif sama, saya sendiri hanya menggunakan paket gratis, karena bagi saya 2 GB sudah cukup untuk menyimpan berkas2 penting.

Nah apakah Anda juga tertarik untuk mencoba salahsatu dari layanan menarik ini? jika belum pernah mencobanya, tidak ada salahnya Anda coba sekarang, manfaatnya sangat terasa untuk saya dan mungkin juga bagi anda. Selamat Mencoba.

Hampir dapat dipastikan setiap pemilik komputer maupun perangkat genggam (gadget) sekarang ini memiliki file mp3 dari artis-artis kesayangan mereka. jaman sekarang ini sudah sangat jarang kita menemukan orang yang sengaja membeli CD/kaset original dari sang artis, pemikiran “kalau ada yang gratis, ngapain beli?” pasti sudah sangat menempel dibenak kita.  saya sendiri pun demikian, sangat sayang rasanya mengeluarkan uang puluhan ribu hanya untuk mendapatkan satu album yang berisi tidak lebih dari 15 lagu, bandingkan dengan membeli CD mp3  yang hanya 5 ribu rupiah atau bahkan mengcopy secara cuma-cuma dari teman. namun mulai sekarang saya ingin berusaha lebih menghargai industri musik, walaupun tidak banyak yang bisa saya lakukan.

"Family" by LeAnn Rimes

"Family" by LeAnn Rimes

Berbekal “komitmen” karena telah bergabung di grup “I Still Buy CDs” di Last.fm, saya mengusahakan untuk tetap membeli CD original dari artis yang saya gemari. Memang saya bukan kolektor berat CD maupun kaset, jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan koleksi MP3 (bajakan) yang saya punya tapi setidaknya jika keuangan memungkinkan saya usahakan tetap membeli CD asli. motivasi saya semata2 untuk menghargai sang artis. percuma saya ngaku2 penggemar berat tapi tidak mendukung karir dia dengan tidak membeli albumnya. harga CD yang mahal memang masih menjadi kendala, harga standar sebuah CD adalah 75-100 ribu rupiah, harga yang mahal untuk membeli 10-15 lagu saja. makanya saya juga tidak terlalu sering membeli CD, namun kalau ada uang yang mencukupi saya selalu berusaha membelinya.

selain faktor keuangan, faktor ketersediaan barang juga menjadi salahsatu kendala, misal saya menyukai seorang artis dan berniat membeli albumnya, akan tetapi album tersebut tidak tersedia di Indonesia, ya mau tidak mau saya hanya bisa mengunduh file mp3nya dari internet.

sampai sekarang saya memang masih sangat pilih2 dalam membeli album, kenapa? ya karena mahal tentunya. hanya artis yang paling saya gemari dan album yang paling layak untuk di koleksi sampai saat ini yang saya beli, diantaranya LeAnn Rimes, Reba McEntire, The Corrs, Taylor Swift, Mandy Moore, dll. mungkin suatu saat jika saya sudah memiliki penghasilan yang cukup besar dan mempunyai uang “nganggur” berlebih saya pasti akan membeli album CD lebih banyak.

Untuk sekarang ini memang format legal bukan cuma berupa album CD atau kaset, format digital pun seperti MP3 maupun AAC bisa legal jika kita membelinya secara legal pula seperti membeli di toko online iTunes store maupun Amazon.com, tapi saya sendiri lebih menyukai CD karena formatnya sendiri sudah digital dan kualitas suaranya lebih bagus dari kaset maupun MP3, selain itu format CD masih berupa format fisik yang nyata bendanya dan ada album covernya, itulah yang menjadi salahsatu nilai tambah dibanding dengan membeli secara legal format digital.

Google Chrome sudah tersedia untuk sistem operasi Windows sejak september 2008. Ketika awal2 peluncurannya saya termasuk orang yg menunggu2 seperti apa browser baru ini rupanya. dan tanggal rilis pun tiba, jutaan orang berbondong2 mengunduh browser baru ini, banyak yg kagum namun tidak sedikit juga yang kecewa karena (katanya) terlalu minimalis dan fiturnya juga masih terbatas. namun seiring perkembangannya Chrome semakin kesini semakin menambah fiturnya dan semakin stabil.

Chrome for Linux

Chrome for Linux

Chrome cukup digemari karena tampilannya yg minimalis, tidak boros di layar dan proses rendernya yg cepat berkat engine webkit-nya. namun sayang Google chrome baru bisa dinikmati oleh para pengguna sistem operasi Windows saja, sedangkan untuk OS lain dikatakan pihak pengembang akan segera menyusul. namun baru2 ini ada berita gembira, terutama bagi pengguna OS Linux karena Google tidak lama lagi akan merilis versi Linux dari Chrome ini, bahkan versi development-nya sudah bisa dicoba di komputer kita. namun jangan terlalu berharap banyak dari versi development ini karena dilihat dari tahap pengembangannya saja, chrome untuk Linux ini bisa dibilang masih “mentah” bahkan belum masuk tahap beta release.

baru2 ini saya berkesempatan mencoba Google Chrome untuk Linux ini yang saya install di sistem operasi Ubuntu Linux saya. kesan pertama tampilannya sudah cukup “licin” seperti pada Chrome di Windows, mengapa saya katakan demikian? pasalnya saya pernah menginstall Chrome di Linux dengan paket yg bernama Chromium, paket ini berisi berkas binary chrome Windows plus Wine sebagai emulatornya agar bisa berjalan di Linux, namun chromium ini tidak semulus yg dibayangkan, masih banyak bug sana sini, sering crash dan tampilannya cenderung kaku, mungkin karena berjalan bukan pada lingkungan aslinya.

Chrome for Linux ini sudah berjalan secara native pada kernel Linux, sehingga tidak dibutuhkan lagi Wine sebagai emulatornya. interfacenya sama persis seperti Chrome for Windows, bedanya logo Google belum tertera pada titlebar browser ini. secara umum kinerjanya cukup memuaskan, jarang terjadi crash (dibandingkan Chromium), render sangat cepat, ini saya rasakan jika dibandingkan dengan Opera dan Firefox yang saya pakai juga di OS yang sama. Kalaupun terjadi crash, Chrome dengan task managernya yang terintegrasi tidak menyebabkan jendela/tab lainnya ikut crash, namun hanya terjadi pada tab/jendela yang aktif saja, sehingga tidak begitu mengganggu aktifitas browsing kita.

Kekurangan dari versi development ini adalah belum didukungnya (secara penuh) plugin seperti flash, oleh karena itu kita tidak bisa membuka situs yang menggunakan flash seperti Youtube karena secara default plugin flash dinonaktifkan, tapi tidak usah khawatir, anda bisa mengaktifkan flash ini dengan menambahkan baris perintah —enable-plugins di akhir command line, sehingga flash akan akif. memang pihak pengembang menonaktifkan flash ini bukan tanpa alasan, flash pada chrome Linux ini belum stabil, kadang kalau kita membuka situs Youtube misalnya, tiba2 browser akan terasa sangat berat dan tersendat2, walaupun tidak terjadi di semua situs yang mengandung flash.

secara umum saya pribadi menyukai browser ini, tampilannya yang rapi dan minimalis membuat saya semakin betah berselancar di internet, fasilitas incognito juga menambah nilai plus dari browser ini, selain itu Chrome sekarang telah mendukung adanya theme, sehingga tampilannya tidak hanya berwarna biru, tapi bisa juga berwarna warni sesuai selera, tinggal pilih saja dari theme yang tersedia. akhirnya pengguna Linux sekarang makin punya banyak pilihan untuk browsernya selain Firefox dan Opera untuk browser major-nya. bagi yang ingin mencoba silahkan unduh disini.

Kalau menyebut nama Amanda Leigh mungkin sebagian dari anda kurang mengenalnya, tapi bagaimana dengan Mandy Moore? mungkin nama ini lebih familiar di telinga kita. tapi sebenarnya kedua nama tersebut adalah orang yang sama, nama lengkapnya Amanda “mandy” Leigh Moore.

Bulan depan, tepatnya tanggal 26 mei 2009, Mandy Moore akan merilis album terbarunya bertajuk namanya sendiri, yaitu “Amanda Leigh”. saya sendiri adalah penggemar berat Mandy yang tentunya menantikan album barunya keluar, saya mulai suka lagu2nya sejak album “Coverage” dirilis tahun 2003 yang lalu. dalam albumnya tersebut Mandy mulai menunjukan perubahannya, lebih dewasa dan lebih matang, tidak ada lagi kesan penyanyi “teen pop” yang riang nan centil seperti lagu “candy” atau “so real”, lagu2 yang dibawakan dalam album itu kesemuanya adalah lagu daur ulang atau cover version dari lagu2 lama, aransemennya bernuansa folk-pop yang lebih dewasa, begitu juga dengan album berikutnya “wild hope”  di tahun 2007 yang semakin menunjukan kedewasaannya dalam bermusik (dan juga penampilannya).

Amanda Leigh - Mandy Moore

Amanda Leigh - Mandy Moore

Album “Amanda Leigh” memang belum dirilis secara resmi, tetapi single pertamanya yang berjudul “I Can Break Your Heart Any Day Of The Week” telah mulai beredar. saya sendiri baru mengetahuinya dari tweet yang dipostkan langsung oleh Mandy di Twitternya. dan berikut adalah video klip resminya, premiere dari Yahoo! video.

Dari yang saya lihat di video itu, musiknya bernuansa pop 80an. terdengar unik dan menarik, saya pribadi langsung enjoy pas pertama dengar lagunya. ditambah dengan videonya yang memang bersetting 80an pula, saya serasa sedang menonton klip soundtrack film2 fighting yang memang sangat populer di akhir dekade 80an, benar2 unik dan menarik  🙂

Mengenai Mandy sendiri, sekarang penampilannya pun sudah semakin matang, apalagi jika melihat sampul album terbarunya ini, dengan gaya rambut yang baru dalam foto hitam putihnya menambah kesan klasik dan elegan. rasanya tidak sabar menunggu albumnya di rilis, seperti apa ya musiknya dalam album ini? apakah semuanya akan bernuansa pop 80an, atau lebih ke pop-folk seperti album2 sebelumnya? kita tunggu saja.

Negara-negara dengan kekuatan militer yang kuat biasanya memiliki rudal jarak jauh dengan jangkauan ratusan hingga ribuan kilometer. Rudal jarak jauh terbagi menjadi 2 jenis, yaitu rudal balistik (ballistic missle) dan rudal jelajah (cruise missile). perbedaan mendasar dari kedua rudal tersebut ada pada proses deployment-nya dan tentu saja spesifikasi mesin dan sistem pemandu-nya pun berbeda. rudal balistik biasanya bermesin roket baik bahan bakar padat maupun cair, diarahkan sebelum di tembakan dan meluncur jauh diatas langit bahkan tidak jarang sampai menembus atmosfer bumi. dari lengkungan arah tersebut didapat lah sasaran yang diinginkan, semakin jauh jarak target biasanya semakin tinggi rudal tersebut meluncur, cara kerjanya kurang lebih seperti mortir. sedangkan rudal jelajah biasanya memiliki sistem pemandu lebih canggih karena dapat menyesuaikan (berubah) arah ketika ia terbang, menggunakan mesin yang lebih efisien seperti jet (turbojet, turbofan maupun ramjet) serta mampu terbang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar.

Peluncuran Rudal Tomahawk

Peluncuran Rudal Tomahawk

Tomahawk adalah sebuah rudal (peluru kendali) jelajah atau dalam istilah internasional dikenal sebagai Cruise missile buatan Amerika Serikat  yang dipakai oleh angkatan lautnya (US Navy). saya pribadi pertama kali “mengenal” rudal ini ketika melihat berita di televisi tentang peluncuran rudal ini dalam perang (invasi) di Irak tahun 2003.  rudal ini memiliki sistem pemandu yang canggih dan akurat dengan sistem GPS dan TERCOM (terrain contour matching) agar dapat terbang rendah menyusuri kontur bumi, oleh karenanya tidak jarang rudal ini terbang hanya di ketinggian beberapa puluh meter saja.

Rudal ini pertama kali diproduksi pada era 70an oleh pabrik General Dynamics, tentu saja waktu itu Tomahawk belum secanggih sekarang, baik dari segi mesin pendorong, hulu ledak maupun sistem pemandu-nya. awalnya rudal ini dibuat untuk dapat diluncurkan dari kapal selam. seiring berkembangnya teknologi Tomahawk pun turut mendapat polesan sana sini terutama dari sisi teknologi navigasi dan mesin. sekarang rudal ini diproduksi oleh Raytheon dan beberapa buah lainnya diproduksi oleh McDonell Douglas.

Sekarang Tomahawk tidak hanya bisa diluncurkan dari kapal selam , tetapi bisa juga diluncurkan dari moda lain seperti kapal laut, peluncur darat bahkan dari pesawat terbang. Operator utama rudal ini adalah Angkatan Laut Amerika serikat, tetapi selain itu juga digunakan oleh angkatan laut Inggris dan Spanyol.

Untuk urusan hulu ledak, rudal ini bisa dipasangi bermacam2 hulu ledak, baik konvensional, TNT maupun nuklir. berat dan ukuran hulu ledak pun bervariasi, tergantung tipe rudal dan kebutuhannya.

Yang unik dari rudal jelajah adalah karakteristiknya mirip dengan pesawat terbang mini, karena memiliki sayap utama selain sirip yang memang selalu ada di ekor setiap rudal. selain itu mesin yang digunakan pun berupa turbofan yang  juga biasa ditemui pada pesawat jet, berbeda dengan rudal2 lainnya yang menggunakan roket pendorong. maka dari itu biasanya rudal jelajah disebut flying bomb. Tomahawk sendiri menggunakan mesin turbofan keluaran Willams (bagi penggemar F1 pasti tidak asing dengan pabrikan ini) dan booster tambahan berupa roket berbahan bakar padat.

Angkatan laut Amerika telah menggunakan rudal ini dalam berbagai peperangan “nyata”, wajar kalau rudal ini mendapat gelar battle proven, pengalamannya sudah cukup banyak, dari mulai perang teluk di awal 90-an hingga perang Irak di medio 2000-an. dengan peralatan navigasi yang canggih, akurasi rudal ini tidak perlu diragukan, makanya AL AS tetap setia memakainya walaupun harga per unitnya tidak murah, sekitar 1-1.5 juta Dollar AS.

Contoh ambigram bertuliskan nama saya

Contoh ambigram bertuliskan nama saya

Apa yang terpikir oleh anda melihat gambar diatas? biasa aja? ya memang tampak biasa saja sih, cuma gambar kaligrafi bertuliskan nama saya, “HIELMY”. Tapi ini bukan kaligrafi biasa, ini namanya Ambigram. Ambigram adalah suatu seni kaligrafi dimana gambar yang dihasilkan bukan hanya bisa dibaca dari satu arah, tetapi dari arah kebalikannya (diputar), tidak percaya? coba saja anda unduh gambar diatas (klik gambarnya untuk memperbesar) kemudian buka dengan editor gambar, lalu putar 180 derajat, pasti akan membentuk tulisan yang sama, yaitu nama saya. nah itulah uniknya ambigram. tapi tulisan yang dibaca kebalikannya itu tidak harus selalu tulisan yang sama loh, bisa juga beda, yang penting dapat terbaca.

Awalnya saya tidak tau apa itu ambigram, semalem saya chatting dengan teman saya Ardian, dia lagi tertarik sama seni satu ini, kemudian dia mengirimkan contoh sketsa ambigramnya yang dibuat secara manual dengan pensil di kertas, saya liat awalnya biasa aja, pas diputar.. ooo baru saya ngerti :). sebelum mengakhiri percakapan dia menwarkan membuatkan ambigram nama saya, sekalian belajar katanya. tadi pagi dia kirimkan hasil sketsanya, wah bagus juga. tapi namanya juga sketsa masih belum rapi, makanya saya coba untuk rapikan dan dibuat dengan format vector. sketsa tadi saya masukan ke Inkscape, kemudian di dijiplak dengan menggunakan line tool, dan akhirnya jadi deh sebuah file vector (.SVG) dari hasil sketsa tadi, kalau sudah format vector kan enak, lebih fleksibel dan bisa “diapa-apain”.

Proses "penjiplakan" sketsa dari kertas ke bentuk vector

Proses "penjiplakan" sketsa dari kertas ke bentuk vector

Seni ambigram unik juga, kreatif kalau saya bilang, karena selain harus berimajinasi bagaimana membuat suatu artwork yang “nyeni” juga harus memikirkan bagaimana bentuknya agar ketika diputar masih bisa berbentuk tulisan yang dapat dibaca pula, hebat lah…thanx buat Ardian udah bikinin ambigram nama saya. kamu emang berbakat 😛

Beberapa waktu lalu saya nemu video ini di Youtube, awalnya sih mau nyari2 video Rascal Flatts, eh ketemu yg lagi live featuring Kelly Clarkson, jadi penasaran gimana jadinya kolaborasi vokal Gary LeVox (vocalist Rascal Flatts) ketemu sama Kelly Clarkson? liat aja video ini sampe habis! si cewek yang agak ngerock ketemu cowok yang country banget…tapi jadinya keren loh… selamat menikmati 🙂

Rascal Flatts feat Kelly Clarson – What Hurts the Most (live)