Archives for category: Catatan Bebas

Kata orang, gak gaul kalau nggak pakai BlackBerry (BB), logikanya karena saya ngga pakai BB berarti saya nggak gaul?! iya juga sih, saya sendiri mengakui kalau diri saya memang nggak ‘gaul’, tapi bukan karena nggak punya BB, tapi karena sifat bawaan saya saja yg introvert, saya sama sekali nggak minder karena nggak pakai BB.

Entah dari mana asalnya sih ada stereotype kalau pake BB itu gaul, kalo ngga berarti gak gaul, padahal awalnya ka BB justru dipasarkan buat kalangan korporat yg jelas2 bukan ajang gaul tapi untuk penunjang pekerjaan. Oh.. mungkin fasilitas BlackBerry Messengernya yg bikin gaul, ah entahlah…

Saya sendiri tidak terlalu antusias dengan BB ini, begitupun dengan produk2 barunya seperti BB Torch atau Onyx 2, rasanya sama saja, begitu2 saja, merk lain juga banyak yg lebih bagus, menang di gengsi saja sepertinya “eh gw pake BB baru nih” mungkin itu aja. selain dari fitur standar BB (BBM, jaringan BIS, dll) rasanya tidak ada yg istimewa dari BB Torch, terus kenapa orang2 pada heboh banget yah?! heran…

Eh tapi saya juga bukan pembenci BB juga, kalau ada yang ngasih sih mau2 aja, hehe.. tp nggak sampai niat nabung buat beli BB, kalau nabung saya mending beli Android Phone aja deh.

Ada juga sih orang yang bener2 benci sama BB (atau mungkn sirik aja karena gak punya?) sampai2 tiap liat yang pakai BB itu kayak jijik, norak ato semacemnya. buat saya sih biasa saja, mau pakai BB jg asal digunakan sebagaimana mestinya ya sah2 aja, toh dia yang punya, dia yang beli. jadi ya santei2 sajah lah….

jadi kesimpulannya, saya nggak antusias dengan BB, tapi bukan hater juga. cuma not that impressed lah intinya, nggak seperti orang2 yg memandang begitu “wah” sama BlackBerry, seolah ngga ada yg lebih canggih lagi. oh satu lagi… salahsatu alasan saya nggak begitu suka dengan BB itu adalah interface-nya, kalau boleh dbilang sih “butut”, apalagi jiga dibanding Android atau iOS punya iPhone, rasanya jauuuuh banget, IMO sih. hehe…

Iklan

Mungkin ini post ke sekian dengan judul “ngeblog lagi”, saya selalu pakai judul itu setelah sekian lama nggak ngeblok terus balik ngeblog, yang artinya saya udah beberapa kali ngeblog-berhenti-ngeblog-berhenti, hehe..

Setelah sekian bulan saya tidak ngeblog (full blog) rasanya kangen juga, terakhir saya ngeblog di blog sebelah (domain/hosting sendiri), awal2nya sih memang semangat, tapi dipikir2 rada repot juga kalau mengurus domain dan hosting sendiri itu, jadi lama2 rasa semangat itu memudar, dan akhirnya blog tersebut saya telantarkan, ujung2nya balik lagi ke blog ini.. 😀

Rasa kangen ini muncul kembali gara2 banyak juga buah pikiran saya, baik topik2 penting maupun hal2 ringan yang tidak tertuangkan, padahal dulu hampir apa saja bisa saya jadikan blogpost, singkatnya lama ngga ngeblog jadi berasa ‘bego’.

Selama ini unek2 di otak cuma dituangkan ke twitter, tapi twitter itu seperti bercuap2 di sebuah keramaian, hanya beberapa orang yang menyimak dan berlalu begitu saja, terlupakan. dengan menulis di blog setidaknya topik yang diangkat bisa lebih ‘awet’ dibanding twitter yang beberapa saat kemudian hilang ditelan timeline.

Untuk saat ini sih belum kepikiran mau nulis apa, tapi Insya Allah kedepannya deh kalau ada yang perlu saya tulis akan saya tulis disini. semoga masih ada yang membaca, hehe… kalopun ngga ada ngga apa2 sih, lagian saya bukan tipe orang pengejar traffic atau cari perhatian orang. 🙂

Yuk ah, sampai jumpa nanti…

Contoh ambigram bertuliskan nama saya

Contoh ambigram bertuliskan nama saya

Apa yang terpikir oleh anda melihat gambar diatas? biasa aja? ya memang tampak biasa saja sih, cuma gambar kaligrafi bertuliskan nama saya, “HIELMY”. Tapi ini bukan kaligrafi biasa, ini namanya Ambigram. Ambigram adalah suatu seni kaligrafi dimana gambar yang dihasilkan bukan hanya bisa dibaca dari satu arah, tetapi dari arah kebalikannya (diputar), tidak percaya? coba saja anda unduh gambar diatas (klik gambarnya untuk memperbesar) kemudian buka dengan editor gambar, lalu putar 180 derajat, pasti akan membentuk tulisan yang sama, yaitu nama saya. nah itulah uniknya ambigram. tapi tulisan yang dibaca kebalikannya itu tidak harus selalu tulisan yang sama loh, bisa juga beda, yang penting dapat terbaca.

Awalnya saya tidak tau apa itu ambigram, semalem saya chatting dengan teman saya Ardian, dia lagi tertarik sama seni satu ini, kemudian dia mengirimkan contoh sketsa ambigramnya yang dibuat secara manual dengan pensil di kertas, saya liat awalnya biasa aja, pas diputar.. ooo baru saya ngerti :). sebelum mengakhiri percakapan dia menwarkan membuatkan ambigram nama saya, sekalian belajar katanya. tadi pagi dia kirimkan hasil sketsanya, wah bagus juga. tapi namanya juga sketsa masih belum rapi, makanya saya coba untuk rapikan dan dibuat dengan format vector. sketsa tadi saya masukan ke Inkscape, kemudian di dijiplak dengan menggunakan line tool, dan akhirnya jadi deh sebuah file vector (.SVG) dari hasil sketsa tadi, kalau sudah format vector kan enak, lebih fleksibel dan bisa “diapa-apain”.

Proses "penjiplakan" sketsa dari kertas ke bentuk vector

Proses "penjiplakan" sketsa dari kertas ke bentuk vector

Seni ambigram unik juga, kreatif kalau saya bilang, karena selain harus berimajinasi bagaimana membuat suatu artwork yang “nyeni” juga harus memikirkan bagaimana bentuknya agar ketika diputar masih bisa berbentuk tulisan yang dapat dibaca pula, hebat lah…thanx buat Ardian udah bikinin ambigram nama saya. kamu emang berbakat 😛

Ketika pulang kampung kemarin, di bis saya melihat seorang ibu bersama seorang anak kecil berumur sekitar 5-6 tahun. yang menarik perhatian saya adalah si ibu itu berbicara dengan bahasa Indonesia ke anaknya, sedangkan ke orang lain dia berbahasa Sunda. saya yakin kejadian serupa juga tidak jarang dialami orang lain. lantas apa salahnya? nggak ada yang salah sih sebenarnya, cuma saya agak “prihatin” saja dengan orang tua jaman sekarang, terutama yang berada di daerah seperti kampung halaman saya yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu ketimbang bahasa Daerah (sunda) kepada anak2nya sedari mereka kecil.

Secara pribadi saya kurang setuju dengan pola pengajaran seperti itu, menurut saya untuk bahasa ibu sebaiknya diajarkan saja bahasa Daerah agar si anak lebih mencintai dan fasih berbahasa daerah, bukan tidak boleh berbahasa Indonesia, toh ini bahasa nasional dan setiap WNI memang harus bisa dan mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi untuk percakapan sehari2 apalagi di daerah yang notabene kesehariannya menggunakan bahasa sunda kenapa tidak diajarkan kepada anak2nya?

Saya sendiri kurang tahu apa motivasi orang tua membiasakan anaknya berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Sunda, apakah merasa malu kalau anaknya nanti terbiasa berbahasa sunda? apakah jika dalam percakapan sehari2 berbahasa Indonesia itu dibilang keren? ngota(ke-kota2an)? atau pengen dibilang gaul? nggak ngerti deh, yang jelas sekarang banyak sekali yang seperti itu, kalau orang tuanya memang tidak terbiasa berbahasa daerah saya bisa maklumi apabila anaknya juga agak kurang lancar berbahasa daerah, tapi yang sekarang banyak terjadi itu orang tua dan lingkungan jelas2 berbahasa sunda, kenapa HANYA kepada si anak saja mereka tidak berbahasa Sunda? ada yang salah dengan bahasa Sunda? teman2 saya saja yang katanya dari “kota” (Jakarta, Bandung, Bogor, dll) masih fasih berbahasa Sunda, karena walaupun lingkungannya tidak berbahasa Sunda tetapi dalam keluarga mereka diajarkan untuk berbahasa Sunda.

Saya pikir bahasa Indonesia itu tidak sulit kok untuk dipelajari, apalagi kalau hanya untuk percakapan sehari2, jadi tidak usah “mencekoki” anak HANYA berbahasa Indonesia saja, kenapa tidak diajarkan juga bahasa daerah? bukan melarang bahasa Indonesia, kalau diajarkan 2 bahasa apa salahnya? saya khawatir kalau dari kecil apalagi sejak anak belum bergaul ke dunia luar, si anak tidak diajari bahasa (dan budaya) daerah nantinya dia menjadi terasing di kampung sendiri, nggak ngerti bahasa daerah sendiri, nah kalau udah gini masihkah menganggap anak ini ngota, gaul dan modern? menurut saya TIDAK! justru anak ini menjadi kurang wawasan, kadar ke-gaul-an itu bukan hanya dinilai dari cara dia berbahasa (tidak menggunakan bahasa daerah), tetapi dari wawasan dan ilmu pengetahuannya, termasuk pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya daerahnya sendiri.

Saya sendiri jujur masih merasa sangat kurang dalam pengetahuan mengenai budaya dan bahasa daerah, untuk percakapan sehari2 memang 90% lebih saya berbahasa Sunda, tapi jika disuruh berbicara Sunda yang baik dan formal saya sendiri masih merasa belum sanggup, padahal saya dari kecil diajarkan berbahasa Sunda dan dalam keseharian berbahasa Sunda, nah sekarang coba pikir bagaimana kalau yang dari kecil saja sudah tidak diajarkan bahasa Sunda? bisa dibayangkan kan? tapi semoga ini hanya menjadi kekhawatiran saya saja, siapa tahu pengetahuan mereka jauh melebihi pengetahuan orang2 seangkatan saya, semoga.

Saya sarankan sih, kepada para orang tua yang ada di wilayah priangan (dan ber-etnis sunda tentunya), sebaiknya mengajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, ini untuk melatih anak agar terbiasa berbahasa daerahnya sendiri dan menimbulkan rasa kebanggaan dalam berbahasa Sunda, sudah sering saya ketemu ABG jaman sekarang yang susah sekali diajak berbahasa Sunda, walaupun mereka mengerti apa yg saya ucapkan tapi mereka seperti enggan untuk melayani pembicaraan dalam bahasa Sunda, miris sekali. jangan2 mereka malah tertawa jika diperdengarkan lagu2 daerah, malah mengejek apabila mendengar musik degung dan merasa “gengsi” menonton wayang golek. mungkin orang tua sebaiknya lebih seimbang dalam mengajarkan hal2 yang berbau kedaerahan dengan pengetahuan dan budaya nasional maupun internasional, contohnya dalam berbicara mungkin bisa secara bilingual, Sunda dan Indonesia, sehingga anak2 akan lebih terbiasa menggunakan kedua bahasa itu.

Tapi ini memang benar2 cuma opini pribadi saya, bukan tidak mungkin ada juga yang tidak setuju dengan opini saya ini, jika ada silahkan berbagi disini.

Berhubung saya ini orangnya termasuk “new version horny” *halah..istilah baru* alias mudah tergoda kalau liat versi terbaru dari suatu software, jadi rasanya gatal aja pengen update kalau liat versi terbaru sudah tersedia, padahal belum tentu butuh sih 😛

Proses download paket kernel dari internet

Proses download paket kernel dari internet

Iseng2 liat update manager di Ubuntu eh ternyata udah ada beberapa paket yang sudah tersedia updatenya! tapi diliat2 sih nggak semuanya penting buat saya, malah beberapa ada yg nggak ngerti sama sekali fungsinya buat apa, tapi yg paling menggoda tentunya adalah update kernel 😀 di repo sudah tersedia kernel versi 2.6.27-11, sebelumnya di PC saya sudah terinstall versi 2.6.27-9. walaupun saya juga gak begitu ngerti apa saja yang berubah dari update ini, tapi yg penting di install saja, siapa tau memang ada perubahan signifikan, minimal bugfix dari versi sebelumnya.

Update kernel selesai, setelah terinstall sistem saya sekarang memiliki 2 kernel, yg versi update dan versi sebelumnya, tapi saya pikir ngapain juga nyimpen dua kernel gitu, akhirnya kernel lama saya hapus, jadi sekarang praktis saya pakai kernel yang baru untuk komputer saya.

Update selanjutnya adalah Virtualbox. baru sekitar 2 minggu lalu saya install Virtualbox 2.1.0 yang telah mendukung openGL, eh sekarang udah ada yg versi 2.1.2. wah langsung saja saya download dari situsnya dan buru2 install di komputer. tapi pas diliat2 nggak ada perubahan berarti sih di versi ini, tidak seperti sebelumnya yang menambahkan fitur2 baru seperti dukungan terhadap aplikasi 3D, dll. di versi ini hanyalah perbaikan beberapa bug yg ada sebelumnya, tapi nggak apa2 lah, yang pasti versi baru biasanya memberikan yang lebih baik.

Nah kebetulan pas iseng2 mampir ke openoffice.org ternyata versi terbaru dari OpenOffice sudah tersedia, yaitu versi 3.0.1, di komputer saya terinstall versi 3.0. kemungkinan besar sih nggak ada perubahan signifikan disini, tidak seperti lompatan dari versi 2.4 ke 3.0 yang punya penambahan fitur dan perubahan tampilan yang cukup terasa seperti dukungan terhadap file Ms Office 2007, di edisi terbaru sekarang paling hanya beberapa bugfix saja (sama seperti diatas). rencananya malam ini saya akan mengunduh openoffice versi terbaru, semoga koneksinya lagi lancar, biar nggak terlalu lama downloadnya.

Untuk urusan update memang tiap orang punya “gaya”nya sendiri, ada yg nggak gampang tergoda dan cenderung pakai versi yg stabil daripada yg terbaru (terbaru belum tentu stabil loh!), ada juga yg “terlalu mudah tergoda” dengan versi baru, sampai2 versi beta atau versi percobaan pun di embat juga. kalau saya sih milih yg versi terbaru tapi dengan status “release” atau “stable” bukan yg versi beta atau percobaan, soalnya ngapain juga buru2 tapi masih banyak bug, mending sabar dikit tapi sudah layak pakai. makanya saya nggak tergoda buat coba Ubuntu 9.04 yg masih beta maupun kernel terbaru (katanya sih udah versi 2.6.28-3) yg belum tentu stabil. tunggu saja tanggal mainnya, nanti juga keluar sendiri :).

Sebelum berpikir lebih jauh, saya kasih tau dulu kalau dalam tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana spesifikasi server Facebook, yang ada justru saya mau bertanya, cuma bingung ngasih judulnya apa. 😀

Tau Facebook kan? tau donk! apa? nggak tau? harrrrreeee geneee??? gak gawool kalo ga tau. nah seperti kita tau yang namanya Facebook itu adalah situs social networking terbesar didunia dan yang paling penting itu TERCANGGIH! bagaimana tidak, facebook ini mempunyai fitur yang sangat banyak dan kompleks, bisa terhubung ke apapun, blog, microblog, mobile, dll lah… dan semuanya dikemas dengan kemasan yang sangat canggih, rapi, dan elegan. salut buat facebook.

Server Farm Facebook

Server Farm Facebook

Nah yang bikin saya penasaran itu seperti apa sih servernya? bayangkan saja yang dikerjakan server itu bukan cuma melayani query dan request buat halaman facebook aja, tapi ada foto, video, email, chat, advertisments, dll. suatu hari saya pernah baca laporan dari facebook engineer bahwa server mereka melayani 2-3 terabyte upload foto perhari, menampilkan 300.000 foto perdetik, dan mengelola lebih dari 15 milyar foto. bayangkan! itu baru urusan foto saja, belum email, tiap ada satu update dari facebook, ia mengirim email notifikasi kepada penggunanya, saya saja dalam 1 hari bisa lebih dari 100 email, kalikan saja dengan ratusan juta pengguna facebook!

Oke mungkin contohnya masih kurang, saya kasih contoh lagi nih, server chat facebook melayani berapa juta member yg online pada saat itu? belum lagi harus ada server yg mengurusi urusan messaging internal dalam FB, belum server yang menyimpan dan menayangkan video yg di upload, kemudian iklan yang selalu tampil di sisi kanan itu pasti butuh server tersendiri. wah… pokoknya banyak deh!

Yang bikin saya salut banget itu walaupun servernya berada di luar negri tapi aksesnya dari Indonesia bisa dibilang relatif cepat, padahal yang di load itu bukan halaman biasa, tapi halaman web dinamis dengan script yang cukup rumit (js, css, xhtml, dll lah…) yang biasanya membutuhkan waktu load cukup lama. sekali lagi salut deh!!! jadi kira2 ada yang tau nggak gimana spesifikasi dari server Facebook ini? maklum saya nggak terlalu ngerti urusan beginian, cuma bisa terheran2 saja… 😀

Upadate:  tambahan foto server facebook diambil dari sini.

Kemarin malam, tepatnya tanggal 20 Januari 2008 tengah malam WIB atau jam 12 siang waktu Washington, presiden Amerika Serikat ke 44 yaitu Barrack Husein Obama resmi dilantik. hingar bingar warga tumpah ruah di jalanan sekitar Gedung Putih, bukan cuma di Washington tapi juga di kota2 lain di AS dan bahkan di seluruh dunia (emang presiden dunia ya?).

Pada moment bersejarah itu saya sangat beruntung dapat menyaksikan secara langsung (maksudnya langsung dari segi waktu, bukan tempat 😛 ) melalui video streaming yang ditayangkan CNN.com yang bekerjasama dengan Facebook. Tadinya saya sudah bersiap2 untuk kecewa karena tidak bisa menyaksikan acara di Inauguration Day tersebut. maklum saya sedang berada di kost-an, sinyal televisi seperti biasa, tidak ada. setahu saya ada beberapa statsiun televisi Nasional yang menayangkan acara tersebut, mengingat akses ke tayangan tersebut tidak memungkinkan saya sudah pasrah saja dan siap2 mantengin update dari twitter atau facebook saja. Baca entri selengkapnya »