Archives for category: Teknologi

Kata orang, gak gaul kalau nggak pakai BlackBerry (BB), logikanya karena saya ngga pakai BB berarti saya nggak gaul?! iya juga sih, saya sendiri mengakui kalau diri saya memang nggak ‘gaul’, tapi bukan karena nggak punya BB, tapi karena sifat bawaan saya saja yg introvert, saya sama sekali nggak minder karena nggak pakai BB.

Entah dari mana asalnya sih ada stereotype kalau pake BB itu gaul, kalo ngga berarti gak gaul, padahal awalnya ka BB justru dipasarkan buat kalangan korporat yg jelas2 bukan ajang gaul tapi untuk penunjang pekerjaan. Oh.. mungkin fasilitas BlackBerry Messengernya yg bikin gaul, ah entahlah…

Saya sendiri tidak terlalu antusias dengan BB ini, begitupun dengan produk2 barunya seperti BB Torch atau Onyx 2, rasanya sama saja, begitu2 saja, merk lain juga banyak yg lebih bagus, menang di gengsi saja sepertinya “eh gw pake BB baru nih” mungkin itu aja. selain dari fitur standar BB (BBM, jaringan BIS, dll) rasanya tidak ada yg istimewa dari BB Torch, terus kenapa orang2 pada heboh banget yah?! heran…

Eh tapi saya juga bukan pembenci BB juga, kalau ada yang ngasih sih mau2 aja, hehe.. tp nggak sampai niat nabung buat beli BB, kalau nabung saya mending beli Android Phone aja deh.

Ada juga sih orang yang bener2 benci sama BB (atau mungkn sirik aja karena gak punya?) sampai2 tiap liat yang pakai BB itu kayak jijik, norak ato semacemnya. buat saya sih biasa saja, mau pakai BB jg asal digunakan sebagaimana mestinya ya sah2 aja, toh dia yang punya, dia yang beli. jadi ya santei2 sajah lah….

jadi kesimpulannya, saya nggak antusias dengan BB, tapi bukan hater juga. cuma not that impressed lah intinya, nggak seperti orang2 yg memandang begitu “wah” sama BlackBerry, seolah ngga ada yg lebih canggih lagi. oh satu lagi… salahsatu alasan saya nggak begitu suka dengan BB itu adalah interface-nya, kalau boleh dbilang sih “butut”, apalagi jiga dibanding Android atau iOS punya iPhone, rasanya jauuuuh banget, IMO sih. hehe…

Terkadang saya harus berurusan dengan berkas2 yang harus saya bawa kemana2, cara paling konvensional adalah dengan memasukannya ke dalam flashdisk, untuk sementara memang cara ini cukup efektif, karena sifatnya yg mobile, bisa dibuka dimanapun. namun kendala baru terasa apabila kita ingin mengsinkronisasi berkas yg ada di flashdisk tersebut dengan backup yang ada di hardisk, terkadang saya kebingungan perubahan berkas tersebut sebelah mana dan berkas mana yg paling baru? jangan sampai berkas yang up to date ditimpa oleh berkas lama, bisa berabe

Nah untuk mengatasi permasalahan tersebut akhirnya saya menemukan solusi yg cukup efektif dan menyenangkan, yaitu dengan menggunakan online backup storage, dengan online storage ini data saya disimpan di server penyedia layanan DAN di hardisk lokal saya, kemudian semua berkas yang ada di sinkronisasi antara server dan hardisk, setiap perubahan yang ada di hardisk juga turut merubah berkas yg ada di server, termasuk update, copy, move, rename, dll. intinya isi folder di hardisk saya sama persis dengan di server sehingga berkas yang saya miliki dijamin up to date, keuntungan lainnya adalah berkas di server tadi bisa juga diakses dari komputer lain (yang telah di beri izin akses tentunya) sehingga berkas yang ada di Komputer A dan komputer B akan sama persis dengan data yang ada di server. Melihat fitur seperti itu rasanya sangat cocok dengan kebutuhan saya yang terkadang menggunakan komputer desktop dan Laptop, dengan menggunakan layanan tersebut saya bisa berurusan dengan berkas yang sama walaupun menggunakan komputer yang berbeda.

Dari sekian banyak layanan online backup storage akhirnya saya kerucutkan menjadi 2 pilihan saja, yaitu Dropbox dan Ubuntu One. kenapa? berikut alasannya:

Ubuntu One

h1-ubuntuone-logoUbuntu One adalah layanan baru yang diberikan Canonical selaku sponsor dari proyek Ubuntu. Ubuntu One merupakan contoh implementasi dari konsep Cloud Computing dimana antara komputer lokal dan Internet (server) terhubung secara seamless. Layanan ini sendiri diluncurkan bersamaan dengan produk Ubuntu terbaru yaitu Ubuntu 9.10 (Karmic Koala) dan statusnya masih public beta, apabila kita menginstall Ubuntu baru ini, Ubuntu One Client secara otomatis telah terinstall, kita tinggal menggunakannya saja.

Ubuntu One menyediakan dua paket storage, gratis dan berbayar. Untuk layanan gratis, mereka menyediakan space sebesar 2 GB untuk penyimpanan berkas, sedangkan yang berbayar disediakan space sebesar 50 GB dengan biaya $10/bulan. Mau pilih yang mana? itu tergantung kebutuhan kita. cara penggunaannya cukup mudah, setelah kita memiliki account dan telah aktif, aplikasi ini terintegrasi dengan Nautilus (file manager) di Ubuntu, sehingga penggunaannya sama seperti menggunakan folder biasa, kita bisa meng-copy, paste, edit, move, rename, dll. sesuai kebutuhan, setiap perubahan secara otomatis di update pula ke server, misal kita memasukan satu berkas ke folder Ubuntu One, maka berkas tersebut akan turut di unggah (upload) juga ke server lengkap dengan struktur direktorinya yang sama persis dengan di hardisk kita. Proses update sendiri berlangsung secara background jadi kita tidak usah menunggu kapan dan bagaimana proses ini berlangsung, yang jelas sesegera mungkin.

Kelemahan dari Ubuntu One yang saya rasakan adalah aksesnya terkadang sangat lambat (malah tidak bisa terhubung), selain itu aplikasi client-nya juga kerap bermasalah. Ubuntu One juga hanya bisa diakses oleh komputer dengan sistem operasi Linux (khususnya Ubuntu) sehingga jika kita ingin mengakses dari komputer lain dengan sistem operasi yang berbeda agak kesulitan.

Dropbox

logoDropbox merupakan layanan yang sama persis seperti Ubuntu One yaitu layanan backup online yang bekerja secara seamless dengan storage lokal kita, cara penggunaanya pun sama yaitu terintegrasi dengan file manager, sehingga penggunaanya semudah mengelola berkas di hardisk kita. Proses update file juga berlangsung secara background sehingga kita tidak usah repot2 untuk mengupdate manual.

Fitur yang ditawarkan juga tidak berbeda jauh dengan Ubuntu One, bedanya dropbox menyediakan 3 paket layanan, Basic, Pro 50 dan Pro 100. Seperti halnya Ubuntu One, paket Basic yang gratis diberikan dengan space sebesar 2GB, paket Pro 50 ditawarkan dengan space 50 GB dan dengan harga yang (hampir) sama dengan Ubuntu One yaitu $9.99 saja untuk setiap bulannya. Jika dirasa masih kurang Dropbox menyediakan paket Pro 100 yang memberikan ruang sebesar 100 GB dengan harga $19.99/bulan.

Keunggulan Drobox dibanding Ubuntu One adalah aplikasi client-nya yang medukung multiplatform diantaranya Linux, Mac, Windows dan iPhone. keunggulan inilah yang tidak dimiliki Ubuntu One karena Ubuntu One hanya bisa digunakan dalam sistem Operasi Ubuntu saja. Selain itu akses ke server juga tergolong cepet dan stabil, sehingga apabila kita ingin berurusan dengan berkas yang cukup besar Dropbox dapat menanganinya dengan cukup cepat.

Pilihan

Oke, sekarang saatnya menentukan pilihan apakah Ubuntu One atau Drobox? dan pilihan saya jatuhkan ke Dropbox. Alasan pemilihan tersebut karena dalam keseharian saya biasa menggunakan dua buah komputer yang berlainan, yang satu sebuah Desktop PC dengan sistem operasi Linux Ubuntu dan satu lagi sebuah Macbook dengan sistem operasi Mac, tentu hanya Dropbox yang bisa bekerja dengan kedua OS ini, selain itu akses ke server yang relatif lebih cepat dan stabil juga menjadi pertimbangan. Status Ubuntu One sendiri yang masih Public Beta juga menjadi salahsatu faktor kenapa saya lebih memilih Dropbox, Ubuntu One masih banyak bug sana sini, sedangkan Dropbox sudah lama menjadi andalan orang banyak. Dilihat dari layanan yang ditawarkan pun relatif sama, saya sendiri hanya menggunakan paket gratis, karena bagi saya 2 GB sudah cukup untuk menyimpan berkas2 penting.

Nah apakah Anda juga tertarik untuk mencoba salahsatu dari layanan menarik ini? jika belum pernah mencobanya, tidak ada salahnya Anda coba sekarang, manfaatnya sangat terasa untuk saya dan mungkin juga bagi anda. Selamat Mencoba.

Google Chrome sudah tersedia untuk sistem operasi Windows sejak september 2008. Ketika awal2 peluncurannya saya termasuk orang yg menunggu2 seperti apa browser baru ini rupanya. dan tanggal rilis pun tiba, jutaan orang berbondong2 mengunduh browser baru ini, banyak yg kagum namun tidak sedikit juga yang kecewa karena (katanya) terlalu minimalis dan fiturnya juga masih terbatas. namun seiring perkembangannya Chrome semakin kesini semakin menambah fiturnya dan semakin stabil.

Chrome for Linux

Chrome for Linux

Chrome cukup digemari karena tampilannya yg minimalis, tidak boros di layar dan proses rendernya yg cepat berkat engine webkit-nya. namun sayang Google chrome baru bisa dinikmati oleh para pengguna sistem operasi Windows saja, sedangkan untuk OS lain dikatakan pihak pengembang akan segera menyusul. namun baru2 ini ada berita gembira, terutama bagi pengguna OS Linux karena Google tidak lama lagi akan merilis versi Linux dari Chrome ini, bahkan versi development-nya sudah bisa dicoba di komputer kita. namun jangan terlalu berharap banyak dari versi development ini karena dilihat dari tahap pengembangannya saja, chrome untuk Linux ini bisa dibilang masih “mentah” bahkan belum masuk tahap beta release.

baru2 ini saya berkesempatan mencoba Google Chrome untuk Linux ini yang saya install di sistem operasi Ubuntu Linux saya. kesan pertama tampilannya sudah cukup “licin” seperti pada Chrome di Windows, mengapa saya katakan demikian? pasalnya saya pernah menginstall Chrome di Linux dengan paket yg bernama Chromium, paket ini berisi berkas binary chrome Windows plus Wine sebagai emulatornya agar bisa berjalan di Linux, namun chromium ini tidak semulus yg dibayangkan, masih banyak bug sana sini, sering crash dan tampilannya cenderung kaku, mungkin karena berjalan bukan pada lingkungan aslinya.

Chrome for Linux ini sudah berjalan secara native pada kernel Linux, sehingga tidak dibutuhkan lagi Wine sebagai emulatornya. interfacenya sama persis seperti Chrome for Windows, bedanya logo Google belum tertera pada titlebar browser ini. secara umum kinerjanya cukup memuaskan, jarang terjadi crash (dibandingkan Chromium), render sangat cepat, ini saya rasakan jika dibandingkan dengan Opera dan Firefox yang saya pakai juga di OS yang sama. Kalaupun terjadi crash, Chrome dengan task managernya yang terintegrasi tidak menyebabkan jendela/tab lainnya ikut crash, namun hanya terjadi pada tab/jendela yang aktif saja, sehingga tidak begitu mengganggu aktifitas browsing kita.

Kekurangan dari versi development ini adalah belum didukungnya (secara penuh) plugin seperti flash, oleh karena itu kita tidak bisa membuka situs yang menggunakan flash seperti Youtube karena secara default plugin flash dinonaktifkan, tapi tidak usah khawatir, anda bisa mengaktifkan flash ini dengan menambahkan baris perintah —enable-plugins di akhir command line, sehingga flash akan akif. memang pihak pengembang menonaktifkan flash ini bukan tanpa alasan, flash pada chrome Linux ini belum stabil, kadang kalau kita membuka situs Youtube misalnya, tiba2 browser akan terasa sangat berat dan tersendat2, walaupun tidak terjadi di semua situs yang mengandung flash.

secara umum saya pribadi menyukai browser ini, tampilannya yang rapi dan minimalis membuat saya semakin betah berselancar di internet, fasilitas incognito juga menambah nilai plus dari browser ini, selain itu Chrome sekarang telah mendukung adanya theme, sehingga tampilannya tidak hanya berwarna biru, tapi bisa juga berwarna warni sesuai selera, tinggal pilih saja dari theme yang tersedia. akhirnya pengguna Linux sekarang makin punya banyak pilihan untuk browsernya selain Firefox dan Opera untuk browser major-nya. bagi yang ingin mencoba silahkan unduh disini.

Sudah cukup lama nih saya penasaran sama OS yang namanya Solaris. sebagai info saja Solaris adalah sebuah sistem operasi yang dikeluarkan Sun Microsytem (dulunya) untuk mesin2 keluaran Sun yang menggunajan prosesor SPARC. sudah bukan rahasia lagi kalau produk2 keluaran Sun memiliki harga yang mahalnya selangit, apalagi mesin2 (server) yang berasitektur SPARC harganya bisa mencapai ratusan juta, oleh karena itu hanya sedikit orang yg bisa merasakan ngoprek OS ini, karena memang cuma terinstall di mesin keluaran Sun dan hanya orang yang mempunyai hak akses saja yg bisa memakainya (baca:admin).

Mulai versi 10, Sun merilis Solaris secara gratis (sebelumnya berbayar dan cukup mahal) dan yang lebih menggembirakan kini Solaris telah mendukung prosesor arsitektur x86 yang merupakan prosesor standar desktop, artinya Solaris bisa diinstall di sembarang mesin desktop. bermodal rasa penasaran tadi, beberapa hari yang lalu saya mengunduh sistem operasi ini yang berupa file image DVD (.iso). Setelah di burn kemudian saya coba installkan di komputer saya, supaya aman saya install di virtualbox saja.

screenshot1Proses instalasi berjalan cukup lancar walaupun agak sedikit membingungkan, tapi kekurangan yang saya rasakan pas instalasi adalah prosesnya yg cukup lama, sekitar satu jam lebih! entah karena saya install di virtualbox atau memang dari sananya memang begitu.

Setelah proses instalasi selesai, komputer di restart dan munculah logon screen khas Solaris (kalau anda pernah mencoba openSolaris, tidak jauh beda). pada logon screen ini seperti sistem Unix/Unix-like lainnya, kita disuguhkan pilihan session, desktop apa yg akan kita pilih. pada Solaris 10 yang saya coba menyediakan 2 macam desktop yaitu Common Desktop Environmment (CDE) dan Sun Java Desktop System. tinggal pilih saja salahsatunya sesuai kebutuhan kita.

Apabila kita memilih desktop CDE kita akan disuguhkan desktop khas Unix klasik, jika anda termasuk orang yg sering bergelut dengan Unix pasti tidak asing dengan desktop ini, biarpun tampak sederhana dan jadul saya secara pribadi menyukai desktop ini, kesannya unix banget gitu loh! maklum saya nggak pernah ngoprek server jadi ketika disuguhkan desktop semacam ini serasa jadi admin saja 😀

Desktop CDE pada Solaris 10

Desktop CDE pada Solaris 10

Desktop yang kedua adalah Sun Java Desktop System, secara sekilas tampilannya tidak jauh dari OS kebanyakan (Windows atau KDE/GNOME) dengan tombol peluncur aplikasi di kiri bawah (semacam start menu di Windows) dan tampilan ikon-ikon di desktopnya. tampilan desktop ini lebih modern dan “manusiawi” dibanding CDE, sangat cocok  digunakan untuk keperluan sehari2 (bukan sebagai server).

Desktop Sun JDS pada Solaris 10

Desktop Sun JDS pada Solaris 10

Berhubung OS ini dibuat untuk server dan mesin2 kelas berat, maka fitur2 unggulannya pun kebanyakan berkaitan dengan kebutuhan server maupun enterprise. salahsatu fitur unggulan dari Solaris adalah ZFS. ZFS ini adalah file system seperti halnya FAT maupun NTFS tapi memiliki fitur2 yang cukup menarik seperti snapshot untuk menyimpan catatan perubahan pada file sehingga apabila ada perubahan seperti file terhapus bisa dikembalikan. ZFS juga memiliki integritas yang bagus dan solid juga bisa menangani kapasistas yang hampir tak terbatas. jujur saya sendiri tidak tahu banyak tentang ZFS ini dan belum pernah mencobanya, yang saya sebutkan tadi baru sebatas referensi dari luar, bukan pengalaman pribadi, jadi CMIIW.

Menurut saya Solaris ini bukan OS yang mudah digunakan, apalagi jika menggunakan desktop CDE, akan banyak sekali kecanggungan dalam penggunaannya. perintah2 di shell-nya juga berbeda dengan Linux apalagi Windows, sehingga cukup pusing juga dalam menggunakannya, contoh saja saya mencoba ingin membuat user baru di Solaris namun belum bisa sampai sekarang, perintah di terminalnya agak sulit untuk dihafalkan 😛 *ngeles, padahal emang nggak ngerti*

Aplikasi yang disertakan sebenarnya sudah cukup untuk keperluan sehari2, untuk urusan perkantoran telah terinstall StarOffice 8, aplikasi ini dulunya adalah cikal bakal dari openoffice. kedua aplikasi perkantoran ini masih dikembangkan secara bersamaan, namun StarOffice dikembangkan sebagai perangkat lunak Proprietary, tidak open source. untuk browser juga telah tersedia firefox yang telah lengkap dengan plugin flash maupun java *pasti lah, namanya juga keluaran Sun*. aplikasi lain yang disertakan cukup banyak, seperti Thunderbird, Real player, JEdit, beberapa games, text editor, GIMP, dll. pokoknya untuk kebutuhan standar sudah mencukupi.

Jika dibandingkan dengan OpenSolaris, ada beberapa persamaan dan perbedaan. openSolaris adalah versi open source dari Solaris, bedanya openSolaris dikembangkan oleh komunitas dan disponsori oleh Sun. secara umum Solaris dan openSolaris sama saja, terutama untuk core maupun kernelnya adalah sama, yang paling jelas berbeda mungkin dari desktop dan aplikasi2 yang disertakan. jika Solaris menggunakan CDE dan Sun JDS, maka openSolaris lebih memilih dekstop yang berlisensi openSource yaitu GNOME. bagi pemakai Linux pasti tidak akan asing jika menggunakan openSolaris (untuk tampilannya), namun jika dioprek lebih dalam baru terasa bedanya solaris/openSolaris dengan Linux. berhubung saya tidak ngoprek terlalu dalam jadi rasanya hanya sedikit saja perbedaannya 😀

Dengan dirilisnya Solaris secara gratis, setiap orang kini bisa turut mencicipi OS Solaris (termasuk saya) baik digunakan untuk desktop maupun server. jika digunakan sebagai desktop mungkin tidak akan terlalu terasa optimalnya, mungkin lain halnya jika digunakan sebagai server, baru deh terasa bedanya, tapi mungkin loh… soalnya saya nggak tau juga, megang server aja belum pernah :D.

Sebelum berpikir lebih jauh, saya kasih tau dulu kalau dalam tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana spesifikasi server Facebook, yang ada justru saya mau bertanya, cuma bingung ngasih judulnya apa. 😀

Tau Facebook kan? tau donk! apa? nggak tau? harrrrreeee geneee??? gak gawool kalo ga tau. nah seperti kita tau yang namanya Facebook itu adalah situs social networking terbesar didunia dan yang paling penting itu TERCANGGIH! bagaimana tidak, facebook ini mempunyai fitur yang sangat banyak dan kompleks, bisa terhubung ke apapun, blog, microblog, mobile, dll lah… dan semuanya dikemas dengan kemasan yang sangat canggih, rapi, dan elegan. salut buat facebook.

Server Farm Facebook

Server Farm Facebook

Nah yang bikin saya penasaran itu seperti apa sih servernya? bayangkan saja yang dikerjakan server itu bukan cuma melayani query dan request buat halaman facebook aja, tapi ada foto, video, email, chat, advertisments, dll. suatu hari saya pernah baca laporan dari facebook engineer bahwa server mereka melayani 2-3 terabyte upload foto perhari, menampilkan 300.000 foto perdetik, dan mengelola lebih dari 15 milyar foto. bayangkan! itu baru urusan foto saja, belum email, tiap ada satu update dari facebook, ia mengirim email notifikasi kepada penggunanya, saya saja dalam 1 hari bisa lebih dari 100 email, kalikan saja dengan ratusan juta pengguna facebook!

Oke mungkin contohnya masih kurang, saya kasih contoh lagi nih, server chat facebook melayani berapa juta member yg online pada saat itu? belum lagi harus ada server yg mengurusi urusan messaging internal dalam FB, belum server yang menyimpan dan menayangkan video yg di upload, kemudian iklan yang selalu tampil di sisi kanan itu pasti butuh server tersendiri. wah… pokoknya banyak deh!

Yang bikin saya salut banget itu walaupun servernya berada di luar negri tapi aksesnya dari Indonesia bisa dibilang relatif cepat, padahal yang di load itu bukan halaman biasa, tapi halaman web dinamis dengan script yang cukup rumit (js, css, xhtml, dll lah…) yang biasanya membutuhkan waktu load cukup lama. sekali lagi salut deh!!! jadi kira2 ada yang tau nggak gimana spesifikasi dari server Facebook ini? maklum saya nggak terlalu ngerti urusan beginian, cuma bisa terheran2 saja… 😀

Upadate:  tambahan foto server facebook diambil dari sini.

Ternyata ketergantungan akan produk dari satu vendor (baca: Microsoft) masih tidak bisa lepas dari masyarakat di Indonesia, sebagai contoh untuk aplikasi perkantoran susah sekali untuk lepas dari Microsoft Office, ya… siapaun setuju kalau Ms Office itu mudah dan nyaman untuk digunakan, apalagi Office 2007 yang memiliki tampilan interface ribbon yang menawan dan mudah digunakan, tapi sayangnya kita terlalu bergantung pada satu produk dan seolah menutup mata untu melirik produk lain yang lebih terbuka.

Saya ambil contoh di lingkungan saya apabila saling bertukar berkas sangat jarang ditemukan format format file selain format dari Office yaitu .doc ataupun .docx, ketika saya memilih penggunakan format ODF malah menjadi kendala karena tidak bisa dibuka di tempat lain karena kebanyakan Ms Office yang mereka miliki tidak bisa membuka file ODF (.odt, .odp, .ods). sangat ironis bukan? secara gitu loh…format ODF itu telah disahkan menjadi format standar internasional oleh ISO, tapi secara de facto di lapangan yang jadi standar justru malah format dari Ms Office (.doc, .xls,.ppt) yang secara de jure bukan standar internasional.

ODF atau Open Document Format adalah standar format file untuk aplikasi perkantoran yang didukung oleh banyak aplikasi seperti OpenOffice, AbiWord, Lotus Symphony, Koffice, NeoOfficeStar Office, dll.  Secara legal  format ODF telah disahkan menjadi format standar internasional (oleh ISO) lebih dulu sebelum format dari Microsoft Office 2007 (Office Open XML) yang berekstensi .docx; .xlsx; .pptx disahkan juga menjadi standar setahun berikutnya. jika melihat fakta tersebut seharusnya ODF lebih populer dibanding format dari Ms Office, tapi seperti saya bilang sebelumnya, orang2 tidak mau beranjak dari zona nyamannya yang bertahun2 memakai Ms Office (walaupun bajakan) dan tidak mau menggantinya dengan apikasi yang mendukung format standar ODF.

Khusus untuk di Indonesia sepertinya penggunaan aplikasi bebas dan format standar juga belum didukung penuh oleh pemerintah, coba kita lihat, di kalangan pemerintahan sendiri format yang masih umum dipakai adalah format dari Microsoft yang artinya mau tidak mau aplikasi-nya juga harus menggunakan Ms Office, coba kalau mulai dari pemerintah mulai menerapkan standar nasional untu berkas perkantoran dengan ODF (seperti di negara2 lain), sehingga staff-staffnya mulai menggunakan OpenOffice (misalnya). dengan demikian kita tidak bergantung kepada satu produk yang jelas2 merupakan produk komersil, emang kita mampu beli lisensi segitu banyak untuk semua kantor pemerintahan se Indonesia? saya yakin sebagian besar malah masih bajakan. namun jika kita menggunakan ODF kita tidak terpaku pada satu aplikasi bahkan berbeda sistem operasi pun bisa. Lotus Symphony, OpenOffice, KOffice, AbiWord  adalah contoh aplikasi yang mendukung ODF yang bisa berjalan di berbagai sistem operasi, dan berita bagusnya aplikasi2 tadi merupakan aplikasi gratis dan bebas (freeware dan open source), sehingga biaya untuk pembelian lisensi bisa ditekan sampai nol.

Entah karena orang Indonesia yg konsumtif atau tidak mau susah untuk mempelajari hal baru, kita selalu terpaku pada satu aplikasi dan OS yang sama, saya berharap suatu saat ODF bisa menjadi standar menggantikan format file yang sekarang banyak digunakan, sehingga kalau kemana2, tukar2 berkas itu menggunakan format ODF, apapun aplikasinya, apapun sistem operasinya, kapan ya??

Kemarin malam, tepatnya tanggal 20 Januari 2008 tengah malam WIB atau jam 12 siang waktu Washington, presiden Amerika Serikat ke 44 yaitu Barrack Husein Obama resmi dilantik. hingar bingar warga tumpah ruah di jalanan sekitar Gedung Putih, bukan cuma di Washington tapi juga di kota2 lain di AS dan bahkan di seluruh dunia (emang presiden dunia ya?).

Pada moment bersejarah itu saya sangat beruntung dapat menyaksikan secara langsung (maksudnya langsung dari segi waktu, bukan tempat 😛 ) melalui video streaming yang ditayangkan CNN.com yang bekerjasama dengan Facebook. Tadinya saya sudah bersiap2 untuk kecewa karena tidak bisa menyaksikan acara di Inauguration Day tersebut. maklum saya sedang berada di kost-an, sinyal televisi seperti biasa, tidak ada. setahu saya ada beberapa statsiun televisi Nasional yang menayangkan acara tersebut, mengingat akses ke tayangan tersebut tidak memungkinkan saya sudah pasrah saja dan siap2 mantengin update dari twitter atau facebook saja. Baca entri selengkapnya »