Dua hari belakangan saya disibukan oleh “mainan” baru di komputer saya, yang pertama adalah Virtualbox, ini adalah sebuah aplikasi virtualisasi  untuk menjalankan sebuah sistem operasi (guest) dalam sistem operasi (host). sebelum menemukan virtualbox ini saya dulu menggunakan Microsoft Virtual PC, sayangnya Virtual PC hanya berjalan baik ketika menginstall OS Windows didalamnya, sedangkan ketika mencoba install Linux selalu gagal. kalo Windows dalam Windows kan nggak seru! lagipula saya sekarang sedang belajar menggunakan Linux, rencana jika sudah “bisa” saya akan bermigrasi menggunakan sistem operasi Open Source tersebut. kembali ke virtualbox, setelah saya coba ternyata banyak sekali kelebihan yang dimiliki dibandingkan dengan Virtual PC, selain berjalan baik dalam menjalankan berbagai OS, juga memiliki banyak fungsi yang cukup menarik.

Sistem operasi yang saya coba instalkan kali ini adalah Ubuntu Linux. dulu saya sudah punya CD Ubuntu 7.10 yang diberikan secara cuma-cuma oleh Canonical melalui program ShipIt, tapi sayang rasanya sudah telalu “jadul” versi itu, saya ingin coba versi terbaru, tapi kalau nunggu kiriman CD dari Canonical kelamaan (bisa2 3-4 minggu) akhirnya saya putuskan untuk download sendiri. berbekal sedikit kopi untuk bergadang, tepat tengah malam saya mulai unduh file ISO Ubuntu terbaru (8.10, codename: Interpid Ibex), setelah itu saya tinggal tidur. ternyata tidak sampai 3.5 jam proses mengunduh selesai juga (Sekitar 700MB). pagi harinya lagsung saya install di VirtualBox. sebelumnya saya pernah mencoba2 berbagai macam distro Linux, tapi belum menemukan yang cocok dihati, tapi entah kenapa saya masih penasaran sama Ubuntu ini, padahal kalo dilihat tampilan awalnya sih tidak begitu menarik (kalah cantik sama distro lain yang pakai KDE dekstop).

Tampilan awal Ubuntu 8.10 Interpid Ibex (dari softpedia)

Tampilan awal Ubuntu 8.10 Interpid Ibex (dari softpedia)

Setelah di install tampak tampilan desktop default (bawaan) dengan warna coklat khas-nya. sepintas tidak ada perbedaan dengan versi-versi sebelumnya. saya termasuk orang yang awam (bisa juga disebut buta) akan Linux, bahkan cara install aplikasi pun saya masih bingung. makanya saya belum berani bermigrasi karena hal paling mendasarpun saya belum paham, tapi sekarang saya niatkan untuk belajar bener2, bukan cuma buka2 liveCD terus reboot dan kembali ke Windows. setelah terinstall saya coba2 explore Ubuntu ini, hmm hal yang saya paling suka adalah software-software yang ada didalamnya relatif baru (pastinya!), jadi tidak usah khawatir ketinggalan jaman. nah ada satu fitur menarih dari Virtualbox yang saya suka, namanya “seamless mode”, dengan mode ini OS guest dan Host bisa berdampingan dalam satu desktop secara bersamaan, jadi tampilannya seperti menyatu dalam satu OS, padahal itu merupakan dua OS yang berbeda. namun tidak semua OS yang di install di virtualbox bisa melakukan mode ini, dan beruntung Ubuntu yang saya install termasuk yang mendukung fitur ini.

Seamless Mode

Seamless Mode, Ubuntu dan Windows dalam satu desktop tampak akur ^_^

Seharian saya otak-atik Ubuntu yang baru saya kenal ini, dan saya bisa ambil kesimpulan: Ubuntu ini gampang! ya… bagi anda yang takut dan menjadikan Linux sebagai “momok” saya sarankan mencoba Ubuntu, walaupun sekilas tampilannya biasa aja, tapi dibalik itu banyak kemudahan yang tersedia, ambil contoh dalam menginstall sebuah program ubuntu memiliki Synaptic Package manager yang akan memudahkan kita dalam menginstall aplikasi, atau bisa juga hanya mengklik ganda file package berekstensi .deb maka program akan terinstall dengan mudah. rasanya lebih mudah dari windows malahan, saya sampe senyum2 sendiri ketika mencobanya, “wah semudah ini toh” dalam hati saya berkata ketika mencobanya, bukan apa2, soalnya saya selalu “parno” ketika melihat tampilan linux, duh ini pasti rumit, harus ketik ini ketik itu di terminal untuk melakukan sesuatu. tapi tidak demikian di ubuntu (walaupun memang bisa sih sebenernya), Ubuntu memang ditargetkan untuk semua orang, jadi faktor kemudahan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan, dengan ini rasanya saya mulai jatuh cinta sama ubuntu, jika nanti bermigrasi ke Linux sepertinya saya akan menjadi seorang pengguna Ubuntu.

Faktor lain kenapa saya memilih ubuntu adalah masalah tampilan, memang desktop Gnome tampak lebih sederhana jika dibandingkan dengan KDE, namun yang saya suka dari ubuntu adalah tampilannya yang simpel tapi nyaman, terutama font2nya. soalnya saya pernah beberapa kali mencoba distro linux seperti PCLinuxOS atau Knoppix, biarpun tampak modern tapi font dan icon-nya kok kerasa “Linux banget” ya? iya sih ini cuma masalah selera, lagian masalah icon sih gampang masih bisa diganti2. tapi pas saya lihat ubuntu rasanya saya langsung merasa lebih nyaman, selain itu untuk mengatasi “kesederhanaan” gnome bisa diakali dengan desktop enhancement yang tersedia banyak di internet, seperti yang saya lakukan setelah seharian otak-atik saya pun sudah bisa sampai dandani desktop sehingga sesuai dengan selera saya, dan sayapun merasa betah memakainya.

Ubuntu 8.10 dalam jendela VirtualBox dengan tampilan yang saya modifikasi menjadi mirip MacOS X

Ubuntu 8.10 dalam jendela VirtualBox dengan tampilan yang saya modifikasi menjadi mirip MacOS X

Namun dibalik semua “kesuksesan” saya dalam menginstall Ubuntu dalam VirtualBox, masih ada beberapa kekurangan yang rasanya belum bisa diatasi, pertama adalah saya tidak bisa mengaktifkan visual effect di ubuntu yang (katanya) bisa membuat orang terkesan, mungkin ini disebabkan oleh graphic adapter yang terdeteksi adalah VirtualBox video, bukan VGA asli secara fisik (punya saya ATI Radeon), sehingga fitur tersebut tidak bisa diaktifkan, yang kedua adalah saya masih bingung bagaimana cara mengaktifkan folder sharing antara OS Host dengan Guest, ada yang bisa membantu? sampai sekarang saya benar2 masih kebingungan nih. oh iya untuk menginstall sebuah OS dalam sistem kita dengan menggunakan VirtualBox, disarankan untuk memiliki resource yang cukup memadai, karena ini sama saja dengan menjalankan 2 komputer dengan satu mesin, yang perlu diperhatikan terutama adalah memory, disarankan menggunakan RAM 2 GB untuk menjaga kenyamanan dalam berkomputer.

sepertinya saya tinggal memperdalam lagi nih belajar Linux sampai nanti akhirnya saya putuskan untuk benar2 pindah dari WIndows ini. bagi yang tertarik silahkan mencoba dan rasakan sendiri ke-asyikannya. bener deh…😀