Suatu hari ada yang berbicara :

” …jika diperhatikan secara baik2, akan nampak perbedaannya…”

kemudian ada lagi seperti ini :

“…masa gitu aja nggak bisa?? secara lo mahasiswa gitu!!…”

Ada kesamaan dari dua contoh kalimat diatas, yaitu ada kata “secara” , namun keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. dalam bahasa Indonesia bisa dibilang kedua kata tersebut merupakan ambigu, artinya satu kata memiliki makna lebih dari satu. atau bisa juga disebut homonim.

Untuk kalimat yang pertama, arti kata secara kurang lebih (belum ada referensi) adalah “dengan cara”. sedangkan yang kedua kurang lebih (lagi) mengandung makna sama dengan “kan”. untuk kata secara pada kalimat pertama mungkin tidak perlu saya jelaskan, melihat konteksnya anda pasti sudah mengerti apa yang dimaksud, secara pada kalimat pertama merupakan penempatan yang benar dan sesuai dengan EYD, namun yang ke dua, ini yang akan menjadi sorotan saya.

Entah berawal dari mana, sekarang ini sangat sering kita dengar orang2 terutama anak muda selalu berbicara dengan menyisipkan kata “secara”, namun bukan pada konteks klasik yang sesuai EYD dan kamus besar Bahasa Indonesia, namun sebagai bahasa gaul. jika anda jarang atau belum pernah mendengar kata “secara” dalam konteks bahasa gaul ini, pasti anda akan bingung jika pertama mendengar orang berbicara dengan menyisipkan kata “secara” bukan pada tempatnya, seperti :

“…secara dia tajir, pasti mobilnya juga keren….”

saya sendiri pada awalnya bingung mendengar seorang penyiar radio berbicara dengan menyisipkan kata “asing” di kalimatnya yang menurut saya (waktu itu) janggal, namun semakin kesini ternyata sekarang kata itu sudah makin menjamur di masyarakat, bahkan bukan cuma anak muda, tapi orang tua dan dewasa pun sekarang mulai menggunakan bahasa ini. secara hidup di jaman modern gitu loh…gak gaul donk kalo nggak ngerti!!!

Secara pribadi saya sendiri kurang suka dengan bahasa ini, boro2 menerapkan dalam kehidupan sehari2, mendengar orang lain berbicara memakai kata “secara” aja sudah malas. pasalnya karena kadang2 kata tersebut menjadi ambigu, walaupun memang ada konteks2 tertentu dalam penerapannya, namun bagi saya kata itu tetap menjadi kata yang janggal. mau dibilang gaul sih boleh saja, saya juga tidak berhak melarang orang2 untuk memakai kata tersebut, namun sebaiknya bahasa gaul juga tidak terlalu “aneh” sehingga melenceng dari tata bahasa yang ada.

“Gaul” tidak harus selalu mengikuti tren yang ada, kadang kala tren itu justru merajalela tanpa di filter terlebih dahulu, tidak sedikit indikator “gaul” itu yang berakibat atau berkonotasi negatif. sebaiknya kita sebagai generasi muda bisa membawa diri dan tidak terbawa arus modern anu sakaba-kaba (bahasa Indonesianya apa yah???). kalau memang mau di anggap gaul, sekalian saja gunakan bahasa2 pelesetan yang benar2 jauh dari konteks bahasa indonesia yang baik dan benar, seperti contoh :

begini : begindang
lama : lambreta
tidak : tinta
makan : makarena
dst…

Bahasa2 diatas bisa disebut bahasa gaul, mungkin “terlalu gaul”, karena benar2 keluar dari kaidah2 bahasa indonesia yang baik dan benar, sebagai penegasan saja, bahasa seperti kata2 diatas biasanya digunakan oleh kaum waria, makanya saya sendiri menamakan bahasa2 seperti itu sebagai BAHASA BENCONG!!

Note : CMIIW