Lagi-lagi mau ngomongin trend nih…sekitar tahun 2005-an di daerah saya (rumah maupun lingkungan kuliah) para pemilik counter selular berlomba2 menjual kartu perdana super murah. bayangkan saja, satu paket perdana yang seharusnya di jual 15 ribu mereka jual sekitar 6-7 ribu saja, dengan pulsa terisi 10.000 rupaih. melihat hal tersebut, otomatis masyarakat, terutama mahasiswa langsung menyerbu counter2 tersebut untuk membeli kartu perdana super murah, bahkan tidak sedikit yang membeli lebih dari satu paket. hal yang paling menarik bagi pembeli tentu saja harga jualnya yang jauh di bawah nilai nominal yang tercantum pada kemasannya, bahkan ada yang menjual hanya 4500 rupiah!

Sayangnya kartu perdana tersbut kebanyakan tidak dipakai sebagaimana mestinya, biasanya para konsumen hanya memakainya sebagai kartu “perek”, bispak, jablay atau apalah sebutannya. julukan itu didapat karena memang kartu perdana tersebut hanya dipakai sekali saja, jadi jika pulsa bawaan yang terisi didalamnya sudah habis mereka langsung membuang kartunya tersebut. terus kenapa konsumen lebih memilih membeli kartu perdana daripada voucher isi ulang?yah seperti disebutkan di atas, harganya jauh lebih murah dari nilai nominalnya, sedangkan voucher biasanya lebih mahal dari nilai nominalnya, sehingga para konsumen lebih memilih kartu perdana ” sekali pakai”.

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? menurut pemikiran saya, hal tersebut terjadi akibat persaingan antar operator yang kurang sehat sehingga mereka saling membanting harga gila2an, lihat saja sekarang kartu perdana hanya berharga 10.000-20.000 rpiah saja. bandingkan dengan jaman dulu yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah.memang sih strategi ini cukup jitu dalam menjaring pelanggan, sehingga record pelanggan operator meningkat drastis, namun sepertinya berbanding terbalik dengan loyalitas pelanggan, dengan murahnya harga perdana, semakin gampang pula orang berganti2 operator, bahkan hanya sekali pakai seperti yang saya sebutkan diatas.

Saya yakin para operator memang tidak berharap terjadinya fenomena nomor “perek” ini, sebenarnya mereka juga cukup rugi, karena mereka sudah menyiapkan account di server mereka untuk nomor2 yang telah mereka terbitkan, namun ternyata konsumen hanya memakainya sekali saja, jelas ini merugikan, tapi itulah konsekuensinya menjual produk dengan harga sangat murah, yang muncul juga kesannya murahan, kurang eksklusif seperti dulu.

Untuk sekarang memang tren ini agak sedikit berkurang, penyebabnya adalah kewajiban registrasi yang harus dilakukan pelanggan telepon selular, hal ini menyebabkan konsumen agak malas untuk membeli perdana baru, biarpun masih tetap berharga murah sampai sekarang. tapi memang bukannya hilang sih tren ini, hanya saja berkurang intensitasnya, sekarang hanya segelintir orang yang masih suka memakai nomor jablay atau perek.

saya punya contoh teman saya yang suka “jajan” membeli nomor “perek” ini, teman saya ini orang makassar yang kost di Bandung sedang menuntut ilmu, dia itu suka membeli kartu perdana dari salah satu operator terkemuka berinisial TELKOMSEL dengan produknya yang terkenal, sebut saja: SIMPATI (bukan nama samaran), dia suka membeli kartu tersebut untuk memakai menelpon malam hari ke kampung halamannya, tahu kan promo 150,-/30 detik itu. dengan perdana berisi 20.000 rupiah, dia bisa menelpon berjam2 ke Makassar. saking seringnya dia beli sampai2 kardus bekas kartu perdana menumpuk penuh dikamarnya, mungkin hampir seratus jumlahnya, waaahh.. banyak sekali! tapi sepertinya sekarang dia sudah capek berganti2 nomor terus karena teman2nya banyak yang komplain karena susah dihubungi karena berganti2 nomor, akhirnya sekarang dia tobat dan sudah jarang membeli kartu perdana lagi.

yah.. memang itulah yang terjadi sekarang, sebenarnya semua juga untung, operator untung dapat pelanggan baru, counter untung barangnya ada yang beli dan pelanggan untung bisa membeli pulsa dengan harga murah. namun sebaiknya sih kartu SIM itu dipakai sebagaimana mestinya, bukan “habis manis sepah dibuang”.