Sudah beberapa bulan ini saya jarang pulang ke kost-an, sebenarnya ga sibuk2 banget sih..cuman gak tau knapa males aja tinggal dikosan, mungkin gara2 sekarang gak terlalu akrab sama anak2 baru di kosan. saya lebih sering main ke kost-an temen atau warnet tempat kakaku bekerja (tempat saya online juga), paling pulang cuma untuk tidur sama mandi doang.

Suatu hari saya bosan juga “berkelana” bagai seorang nomaden, hari itu saya ingin menghabiskan seharian di kost-an, seperti biasanya satu-nya hiburan yang ada hanya sebuah compo “multifungsi” yang biasa saya geber buat memutar kaset, CD, MP3 dan mendengarkan radio. semua kaset dan CD sudah sering diputar, satu2-nya alternatif ya mendengarkan radio.

99ers menjadi radio favorit saya, rasanya sudah lama sekali tidak mendengarkan radio, jadi banyak lagu baru yang sama sekali baru saya dengar, memang sesekali diputar lagu yang familiar di telinga saya, tapi selanjutnya banyak yang baru saya dengar. tapi dari sekian lagu yang saya dengar sepertinya ada hal menarik yang perlu saya bahas disini.

saya akui memang para musisi pop indonesia sangat brilian hingga bisa membuat lagu yang bisa disukai oleh ribuan orang se-antero Indonesia, diputar di puluhan radio, albumnya laku puluhan ribu kopi dan klipnya ditayangkan di beberapa statsiun TV, namun yang saya lihat dengar lagu2 pop yang beredar sekarang seperti kurang “bernyawa”, kurang orisinil. maksud saya disini bukan artinya lagu tersebut itu lagu jiplakan, akan tetapi sangat mirip dengan lagu2 sebelumnya dari musisi yang sama. saya contohkan disini Melly Goeslaw, dia memang seorang musisi jenius, setiap karyanya pasti laku di pasaran, namun makin kesini saya dengar lagu ciptaanya hampir sama “pattern-nya” sehingga ketika pertama mendengarkan lagu ciptaannya, siapapun yang menyanyikannya saya bisa menebak2 pasti lagunya melly, dan benar saja memang lagunya melly, contoh lagu yang menurut saya melly banget adalah :irwansyah “pecinta wanita”, irwansyah dan acha “heart”, melly feat BBB “let’s dance together”, dsb. selain melly contoh lainnya adalah Yovie Widianto, dia juga sangan cerdas dalam menciptakan musik, tapi koq rasanya sekarang2 ini karya2nya seperti monoton, contohnya bisa di lihat dengar pada lagu2nya yovie & the nuno, sepertinya seragam, ada pattern besar disana yang menurut saya terlalu khas yovie, sehingga pertama kali mendengar pun akan bisa ditebak ini lagu siapa. dan yang terbaru lagu Dirly & Gea yang berjudul “kemenangan Hati”, ketika pertama mendengar pikiran saya jadi teringat sama lagu “juwita”nya yovie & the nuno.

musik

bukan hanya kedua musisi itu saja, rasanya banyak musisi2 sekarang seolah ingin mengulang sukses dengan menciptakan karya baru berdasarkan lagu2 lama mereka yang lebih sukses sebelumnya, bisa saya contohkan disini misalnya Peter Pan, Ungu, Naff, Sheila on7, radja, ada band dll. menurut pendengaran saya lagu2 mereka sekarang polanya hampir mirip dengan lagu2 mereka terdahulu, hanya sedikit dimodifikasi dan berganti lirik, tapi rasanya seperti begitu-begitu saja. resikonya lagu2 tersebut akan mudah bosan untuk didengar.

namun meskipun demikian, bukan berarti saya sirik, iri dan dengki (hehe..serem amat bahasanya) terhadap para musisi tersebut, saya masih menyukai karya2 mereka kok, terutama yovie widiyanto. ini hanya sekedar “kritik” kecil dari seseorang yang sangat awam terhadap musik. terus terang saja sekarang ini saya tidak terlalu tertarik dengan musik pop major seperti itu, sudah bosan rasanya seperti mendengar lagu itu2 lagi, memang sih ketika pertama di rilis, album atau lagu tersebut akan laku, namun sepetinya tidak akan bertahan lama, dan memang perkiraan saya ada benarnya, lagu2 tersebut tidak bertahan begitu lama di chart bursa musik indonesia, setidaknya daya tahannya- tidak se-awet lagu2 sebelumnya.

Oh iya sebagai alternatif saya sekarang lebih banyak menyukai lagu2 dari band atau artis indie, karena yang saya lihat musik mereka itu fresh di telinga saya, namanya juga independen, tidak terikat apapun, mereka bebas berekspresi tanpa terlalu memperdulikan apakah masyarakat menyukai lagu2 mereka atau tidak, yang ada hanya idealisme bermusik. walaupun penggemarnya terbatas, namun komunitas indie punya ikatan dan loyalitas yang kuat. antara artis dan fans biasanya punya hubungan lebih dekat, tidak seperti pada artis-artis major yang seolah untouchable. begitupun loyalitas fans sangat kuat, kemanapun band idolanya manggung pasti di buru apalagi masih di kota tempat asalnya. keterkaitan sesama artis indie pun sangat kuat, antar sesama artis seperti ada link yang saling berhubungan, kalau digambarkan seperti link-nya di friendster lah🙂, setidaknya itu yang saya lihat di kota bandung. secara pribadi saya appreciate terhadap musisi indie bandung, mereka sangat kreatif dalam bermusik, sehingga tidak sedikit band indie dari kota ini menjadi terkenal se-Indonesia.

semoga musik Indonesia makin maju dan semakin kreatif serta berkualitas, jangan hanya market oriented, tapi bolehlah sedikit beridealisme walaupun resikonya ditinggalkan pasar. yang penting berkualitas. saya punya keyakinan kalau masyarakatnya lebih cerdas pasti akan lebih memilih musik yang lebih berkualitas.