Suatu hari saya pulang kampung ke kota kelahiran saya di Banjar, suatu kota di daerah priangan yag terapit diantara kab. Ciamis Jawa Barat. seperti biasa jika saya pulang pasti langsung mengubugi teman2 saya yang ada di sana untuk janjian main dan jalan2. ketika berkumpul saya melihat teman saya sedang mengotak-atik handphone barunya, waktu itu yang dia pakai nokia 7610, cukup canggih untuk ukuran waktu itu, o iya sekedar informasi waktu itu sekitar tahun 2004. saya sempat kagum juga melihat teman saya sudah punya HP baru, padahal sekitar 6 bulan sebelumnya saya bertemu dia masih memakai nokia 8210. namun ada hal yang menarik yang menurut saya cukup menggelitik, ketika saya tanya apa saja fitur2 yag ada di HPnya, dia menjawab “nggak tau!yang penting bisa sms-an, nelepon aja jarang banget”. wah sangat disayangkan HP semahal itu (ketika itu diatas 3juta) tidak dioptimalkan dengan baik, dengan segala fitur yang ada hanya dipakai untuk SMS-an?sangat mubazir.

saya jadi tertarik membahas topik ini, jika melihat kasus teman saya tadi, dia membeli HP canggih tapi hanya dipakai untuk SMSan, kan kalau cuma untuk SMS HP lamanya juga bisa, lantas apa motivasi orang untuk membeli produk baru yang canggih?apakah hanya untuk menunjukan status sosial (baca:prestise/gengsi)?mungkin contoh diatas hanya salahsatu kasus dari sekian banyak kasus serupa yang menjadi “korban” gaya hidup. tidak hanya waktu itu, beberapa bulan lalu juga ketika saya main ke SMA, saya bertemu dengan anak2 SMA yang sedang nongkrong di sekolah sambil memainkan HP-nya (sepeti yang biasa dilakukan ABG), dan saya cukup tercengan melihat “mainan” mereka yang oke punya, rata2 nokia N series lah, atau paling tidak yang sudah mendukung teknologi 3G. saya pikir itu merupakan pemborosan mengingat di daerah saya belum terjamah teknologi 3G, jadi buat apa mahal2 membeli handphone yang memiliki fitur tersebut kalau tidak bisa digunakan?tapi itulah Indonesia, budaya konsumtif memang sudah melekat dari dulu, mereka merasa bangga menjadi korban tren kaum kapitalis. handphone sebenarnya sekarang bisa dibilang menjadi barang sekunder, karena saking pentingnya sebagian besar orang telah memiliki HP, apabila seseorang memandang handphone sebagai suatu kebutuhan, dia akan membeli dan menggunakan barang tersebut sesuai kebutuhan, apabila orang tersebut menganut prinsip efisiensi. buat apa membeli barang yang mahal harganya namun tidak bisa menggunakan teknologi yang tertanam didalamnya, hanya wasting money saja.

saya sempat membandingkan teman2 pengguna handphone di dareah saya dengan teman2 di kampus, ternyata perbedaannya cukup mencolok, di daerah saya HP kebanyakan sudah sangat canggih dan model baru, tapi dari segi pemakaian sangat jarang digunakan, karena memang kebutuhannya tidak se-urgent sepeti di kota besar, apalagi untuk mahasiswa. mereka memandang HP hanya sebagai alat gaul dan pengukur status sosial, jadi kalau HPnya bagus, maka diala yang paling “gaul”, namun tidak dipandang sebagai alat komunikasi yang benar2 sesuai kebutuhan. lain halnya dengan teman2 saya di kampus, mereka sebenarnya berasal dari kota2 besar seperti Bandung dan Jakarta, namun”hasrat” mereka tidak sebesar orang2 daerah untuk membeli handphone baru, karena mereka beralasan “yang ini aja masih cukup kok”, mereka bukan tidak mampu membeli HP baru, tapi belum perlu.

hal ini bukan hanya berlaku pada pengguna HP, tapi barang2 ber-teknologi lainnya, seperti komputer, PDA, dll. banyak orang yang ingin mempunyai komputer baru dengan spesifikasi tinggi, padahal gunanya spek tinggi baru terasa apabila digunakan untuk aplikasi tertentu, bermain game misalnya. apabila seseorang tidak begitu menyukai game tapi membeli komputer ber-VGA super, menurut saya itu useless.

sebaiknya kita bisa lebih berpikir efisien daripada konsumtif, mengedepankan prestasi bukan prestise, karena apabila hanya mementingkan gengsi semata hanya akan menguntungkan pihak lain, yaitu produsen. apakah tidak terpikir oleh kita untuk menjadi produsen? bukan menjadi konsumen yang hanya bisa membeli barang tanpa tahu bagai mana menggunakannya. oleh karena itu marilah kita berpikir kreatif, agar hasil karya kita bisa bermanfaat dan digunakan oleh orang banyak.