Sekarang ini sedang ada tren baru di kalangan teman2 saya, punya HP CDMA. sudah banyak diantara teman2 saya yang membeli HP CDMA, tidak yang mahal2 sih, yang penting bisa telepon dan SMS. yang menarik, sebenarnya mereka sudah punya HP GSM, hanya saja mereka membeli CDMA sebagai alternatif agar komunikasi bisa lebih murah, karena tarif yang ditawarkan operator CDMA lebih murah dari operator GSM, selain itu harga handset CDMA bisa didapat dengan harga yang relatif murah. dengan ‘hanya’ mengeluarkan uang 300ribuan anda sudah bisa mendapatkan satu unit handset CDMA (walaupun merknya tidak jelas). mungkin karena harga murah itulah CDMA biasanya hanya dijadikan HP sekunder, padahal ketika diluncurkan di Indonesia, jaringan selular CDMA bukan dimaksudkan sebagai ‘pelengkap’, akan tetapi sebagai opsi lain bagi konsumen dalam menggunakan telepon selular, dengan kata lain bersaing bersama operator GSM dalam meraih pasar.

Walaupun berharga relatif murah, namun bagi mahasiswa apalagi anak kost harga 300 ribu masih terasa mahal, namun keinginan untuk memiliki HP CDMA cukup menggebu, maka dari itu sekelompok teman2 saya berinisiatif membuat arisan CDMA, artinya uang hasil arisan tadi harus dibelikan HP CDMA oleh pemenangnya. pada akhirnya semua peserta akan memiliki HP CDMA sehingga komunikasi dalam kelompok tersebut akan lebih mudah dan murah. namun yang perlu digaris bawahi bahwa ponsel CDMA tadi tetap menjadi ponsel sekunder mereka, bukan sebagai ponsel primer.

Menurut pengamatan saya, ada beberapa alasan mengapa masyarakat memilih jaringan CDMA, diantaranya:

  • harga handset yang lebih murah. sebenarnya tidak semua berharga murah, bahkan untuk level hi-end bisa lebih mahal dari HP GSM, tapi pada entry level harga yang ditawarkan masih dibawah handset GSM. namun biasanya pada kisaran harga yang rendah, HP CDMA tidak dilengkapi fasilitas RUIM, artinya kartu tidak dapat diganti2 (inject).
  • tarif yang murah. tarif yang ditawarkan biasanya jauh lebih murah dari GSM, bahkan ada yang operator yang menawarkan tarif perbincangan tidak lebih dari 2000 rupiah/jam, bandingkan dengan GSM yang bisa mencapai 1000-2000 rupiah/menit.
  • promosi operator. beberapa operator CDMA menawarkan promosi yang menggiurkan seperti mendapatkan poin atau pulsa apabila melakukan transaksi atau pemakaian sekian menit.

Namun seperti disebutkan diatas, kecenderungan yang terjadi sekarang CDMA hanya dijadikan HP sekunder, karena biasanya konsumen mempunyai lebih dari satu ponsel, seprtinya konsumen masih berat melepaskan ponsel GSM mereka untuk digantikan oleh ponsel CDMA sebagai nomor utama dia. tetapi masuk akal juga mengapa konsumen cenderung berlaku demikian, menurut pengamatan saya berikut beberapa alasan mengapa konsumen enggan memakai CDMA sebagai ponsel primernya :

  • bersifat lokal. itulah keterbatasan yang paling mencolok dari jaringan CDMA, masih bersifat lokal, artinya tidak bisa dibawa keluar kota di luar kode area yang dipakai. namun sekarang sudah diperkenalkan fasilitas semacam roaming yang mengizinkan pengguna CDMA bepergian ke luar kota tanpa kehilangan komunikasi, namun biasanya layanan ini dikenakan biaya tambahan dan nomor dari pengguna berubah untuk sementara sesuai area yang dituju. sehingga tetap saja tidak merubah ke-engganan konsumen untuk memakai CDMA sebagai nomor utamanya.
  • susah mengganti nomor. ini pula yang menjadi ‘ciri khas’ CDMA, yaitu nomor yang sudah tertanam pada HP (inject). Sebenarnya hanya sebagian saja ponsel yang mengadopsi model inject ini, namun biasanya ponsel yang dilengkapi fasilitas RUIM harganya lebih mahal, sehingga model inject inilah yang lebih populer di masyarakat. sebenarnya model inject pun masih bisa berganti nomor, hanya saja prosesnya rumit, harus dibawa ke counter ponsel atau gerai operator, tidak semudah model yang menggunakan kartu SIM/UIM, yang bisa diganti kapan saja dan dimana saja sesuka kita.
  • tarif murah hanya berlaku sesama operator. artinya untuk penggunan ke operator lain tarifnya relatif mahal, tidak berbeda jauh dengan GSM, sehingga untuk urusan ini konsumen lebih memilih GSM yang lebih fleksibel dan mobile.

Itulah sebabnya mengapa ponsel CDMA hanya digunakan sebagai ponsel sekunder. tetapi para konsumen yang “mendua” inipun sadar akan kekurangan dan kelebihan dari jaringan CDMA tadi sehingga perlu pertimbangan juga untuk menggunakan dua buah operator yang berbeda jaringan.

pertanyaan berikutnya ialah : apakah ponsel CDMA tidah bisa diandalkan sebagai ponsel primer? menuru saya, bisa. bagi orang yang tidak terlalu mobile, artinya jarang bepergian keluar kota sepertinya sangat cocok menggunakan ponsel dari operator CDMA, begitu pula bagi orang yang sering berhubungan dengan fixed phone atau PSTN namun mobile di dalam kota, karena karakter dari jaringan CDMA hampir sama dengan telepon rumah, termasuk masalah tarif, sehingga CDMA menjadi pilihan tepat. terlepas dari semua itu, memang hak setiap konsumen untuk memakai produk yang dia gunakan apakah untuk alat komunikasi primer maupun sekunder, bahkan kalaupun tidak dipakai sama sekali itu merupakan hak penuh konsumen.