Mie’s Corner – Reborn Edition

don’t make it too easy, leave something for me and my imagination

Iseng: Qt Creator dan KamusQu

with 7 comments

Dasar mahasiswa pengangguran! setelah kemarin nggak ada kerjaan menginstal solaris padahal megang server pun belum pernah, sekarang semakin iseng saja dengan mendownload IDE alias aplikasi pengembangan perangkat lunak terintegrasi, padahal saya sama sekali tidak mengerti bahasa pemrograman, hehe…. :D

IDE yang saya coba kali ini adalah Qt creator. Bagi yang sehari2 menggunakan Linux pasti sudah tidak asing donk dengan Qt ini! Qt (baca:cute) adalah user interface toolkit  untuk membangun antarmuka suatu aplikasi. contoh aplikasi paling sukses yang menggunakan Qt adalah KDE, KDE adalah lingkungan desktop untuk Linux dan Unix, seluruh antarmuka desktop plus segala aplikasi yg dibawanya menggunakan Qt. karena Qt hanyalah toolkit untuk interface, maka dalam mengembangkan sebuah aplikasi biasanya memerlukan lebih dari satu aplikasi, Qt designer untuk mendesain tampilannya (GUI) dan IDE lain untuk pemrogrammannya misalnya KDevelop.

Tampilan Form Editor di Qt Creator

Tampilan Form Editor di Qt Creator

Qt Creator adalah sebuah IDE ringan (gitu sih kata pembuatnya) yang mengintegrasikan Qt Designer plus C++ code editor, sehingga jika anda ingin membuat aplikasi berbasis Qt hanya butuh satu aplikasi ini saja, sehingga lebih terintegrasi dan mudah dalam pengembangannya. faktor ketertarikan saya akan program ini bukan karena ada fitur yg menarik atau semacemnya (karena memang nggak ngerti),  tapi yang menarik perhatian saya justru adalah tampilannya. user interface Qt Creator ini begitu bagus, apalagi di lingkungan Linux sangat jarang mendapati aplikasi yang bertampang bagus.

Setelah mengunduh dari situsnya, saya langsung coba, wah ternyata asik juga! seandainya saya ini programmer pasti betah pakai ini, walaupun dari sisi fitur masih dibawah IDE lainnya (apalagi dibandingkan dengan Visual Studio, jauh!) tapi karena labelnya jg lightweight jadi bisa dimaklum. nah berhubung saya gak bisa koding, tidak mungkin donk saya bikin aplikasi dari awal, maka dari itu saya cari satu aplikasi open source yg bisa saya oprek, dan ketemu lah QamIDEN yang selanjutnya bertransformasi menjadi KamusQu setelah saya permak. :)

KamusQu

Dari hasil ngoprek2 itulah lahirlah sebuah aplikasi (yang tidak begitu) baru bernama KamusQu. KamusQu adalah program yang berfungsi sebagai penterjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. aplikasi ini dikembangkan dari QamIDEN yang berfungsi serupa. Secara fungsi kedua aplikasi ini tidak jauh berbeda, apalagi saya tidak banyak ngoprek di kodingnya, saya hanya mendesain ulang antarmukanya (UI) agar lebih intuitif (menurut saya) dan penggantian icon. selain itu, untuk memudahkan pengguna awam, aplikasi KamusQu menggunakan Bahasa Indonesia, jadi biar ketahuan kalau ini karya anak negri :)

Tampilan KamusQu dengan latar Qt Creator code editor

Tampilan KamusQu dengan latar Qt Creator code editor

Pemilihan nama KamusQu ini bukan tanpa alasan loh…. secara harfiah sudah bisa ditebak apa artinya, selain agar namanya terdengar lebih Indonesia. lalu kenapa bukan “kamusku”? karena ini dibuat dengan Qt toolkit, biar agak keliatan identitasnya, maka disisipkan huruf ‘Q’ ditengahnya. utuk database kamusnya KamusQu mengambil dari database SATUVisi Indict, kenapa? karena program QamIDEN mengambil database dari Indict dan merubahnya kedalam format SQLite yang digunakan oleh QamIDEN dan KamusQu sekarang.

KamusQu berlisensi GPL seperti induknya (QamIDEN), karena sesuai peraturan lisensi, aplikasi GPL boleh digunakan, dibagikan, disalin dan dimodifikasi secara bebas selama masih menyertakan kode sumber dan dokumentasi lisensi GPLnya itu sendiri. maka dari itu saya merilis KamusQu dengan lisensi GPL.

Karena ini cuma iseng2 saja, jangan terlalu berharap banyak akan fitur2 yang akan disediakan, apalagi saya tidak banyak nyentuh code C++nya, fiturnya hanya standar penterjemahan kata/frase dari bahasa Inggris ke Indonesia atau sebaliknya, itu saja. jika anda tertarik silahkan download berkas binary-nya yang dikompilasi untuk platform Linux, tidak usah di install, tinggal jalankan saja. untuk platform lain saya tidak bisa mengkompilasinya karena segala keterbatasan, maka dari itu saya berikan source code-nya untuk dikompilasi sendiri atau lebih bagus dikembangkan lebih lanjut, namanya jg open source :)

Semoga bermanfaat! *walaupun hasil iseng* :)

Download KamusQu:

Linux Binary (database included): Download (8.44 MB)

Source Code (database not included): Download (32 KB)

KamusQu di Google code: disini

Written by Hielmy

7 Februari 2009 at 11:36 am

Ditulis dalam Hobi & Interest, Linux

Bahasa Sunda Sebagai Bahasa Ibu

with 5 comments

Ketika pulang kampung kemarin, di bis saya melihat seorang ibu bersama seorang anak kecil berumur sekitar 5-6 tahun. yang menarik perhatian saya adalah si ibu itu berbicara dengan bahasa Indonesia ke anaknya, sedangkan ke orang lain dia berbahasa Sunda. saya yakin kejadian serupa juga tidak jarang dialami orang lain. lantas apa salahnya? nggak ada yang salah sih sebenarnya, cuma saya agak “prihatin” saja dengan orang tua jaman sekarang, terutama yang berada di daerah seperti kampung halaman saya yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu ketimbang bahasa Daerah (sunda) kepada anak2nya sedari mereka kecil.

Secara pribadi saya kurang setuju dengan pola pengajaran seperti itu, menurut saya untuk bahasa ibu sebaiknya diajarkan saja bahasa Daerah agar si anak lebih mencintai dan fasih berbahasa daerah, bukan tidak boleh berbahasa Indonesia, toh ini bahasa nasional dan setiap WNI memang harus bisa dan mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi untuk percakapan sehari2 apalagi di daerah yang notabene kesehariannya menggunakan bahasa sunda kenapa tidak diajarkan kepada anak2nya?

Saya sendiri kurang tahu apa motivasi orang tua membiasakan anaknya berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Sunda, apakah merasa malu kalau anaknya nanti terbiasa berbahasa sunda? apakah jika dalam percakapan sehari2 berbahasa Indonesia itu dibilang keren? ngota(ke-kota2an)? atau pengen dibilang gaul? nggak ngerti deh, yang jelas sekarang banyak sekali yang seperti itu, kalau orang tuanya memang tidak terbiasa berbahasa daerah saya bisa maklumi apabila anaknya juga agak kurang lancar berbahasa daerah, tapi yang sekarang banyak terjadi itu orang tua dan lingkungan jelas2 berbahasa sunda, kenapa HANYA kepada si anak saja mereka tidak berbahasa Sunda? ada yang salah dengan bahasa Sunda? teman2 saya saja yang katanya dari “kota” (Jakarta, Bandung, Bogor, dll) masih fasih berbahasa Sunda, karena walaupun lingkungannya tidak berbahasa Sunda tetapi dalam keluarga mereka diajarkan untuk berbahasa Sunda.

Saya pikir bahasa Indonesia itu tidak sulit kok untuk dipelajari, apalagi kalau hanya untuk percakapan sehari2, jadi tidak usah “mencekoki” anak HANYA berbahasa Indonesia saja, kenapa tidak diajarkan juga bahasa daerah? bukan melarang bahasa Indonesia, kalau diajarkan 2 bahasa apa salahnya? saya khawatir kalau dari kecil apalagi sejak anak belum bergaul ke dunia luar, si anak tidak diajari bahasa (dan budaya) daerah nantinya dia menjadi terasing di kampung sendiri, nggak ngerti bahasa daerah sendiri, nah kalau udah gini masihkah menganggap anak ini ngota, gaul dan modern? menurut saya TIDAK! justru anak ini menjadi kurang wawasan, kadar ke-gaul-an itu bukan hanya dinilai dari cara dia berbahasa (tidak menggunakan bahasa daerah), tetapi dari wawasan dan ilmu pengetahuannya, termasuk pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya daerahnya sendiri.

Saya sendiri jujur masih merasa sangat kurang dalam pengetahuan mengenai budaya dan bahasa daerah, untuk percakapan sehari2 memang 90% lebih saya berbahasa Sunda, tapi jika disuruh berbicara Sunda yang baik dan formal saya sendiri masih merasa belum sanggup, padahal saya dari kecil diajarkan berbahasa Sunda dan dalam keseharian berbahasa Sunda, nah sekarang coba pikir bagaimana kalau yang dari kecil saja sudah tidak diajarkan bahasa Sunda? bisa dibayangkan kan? tapi semoga ini hanya menjadi kekhawatiran saya saja, siapa tahu pengetahuan mereka jauh melebihi pengetahuan orang2 seangkatan saya, semoga.

Saya sarankan sih, kepada para orang tua yang ada di wilayah priangan (dan ber-etnis sunda tentunya), sebaiknya mengajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, ini untuk melatih anak agar terbiasa berbahasa daerahnya sendiri dan menimbulkan rasa kebanggaan dalam berbahasa Sunda, sudah sering saya ketemu ABG jaman sekarang yang susah sekali diajak berbahasa Sunda, walaupun mereka mengerti apa yg saya ucapkan tapi mereka seperti enggan untuk melayani pembicaraan dalam bahasa Sunda, miris sekali. jangan2 mereka malah tertawa jika diperdengarkan lagu2 daerah, malah mengejek apabila mendengar musik degung dan merasa “gengsi” menonton wayang golek. mungkin orang tua sebaiknya lebih seimbang dalam mengajarkan hal2 yang berbau kedaerahan dengan pengetahuan dan budaya nasional maupun internasional, contohnya dalam berbicara mungkin bisa secara bilingual, Sunda dan Indonesia, sehingga anak2 akan lebih terbiasa menggunakan kedua bahasa itu.

Tapi ini memang benar2 cuma opini pribadi saya, bukan tidak mungkin ada juga yang tidak setuju dengan opini saya ini, jika ada silahkan berbagi disini.

Written by Hielmy

4 Februari 2009 at 10:16 pm

Update…update…update!!!

with 4 comments

Berhubung saya ini orangnya termasuk “new version horny” *halah..istilah baru* alias mudah tergoda kalau liat versi terbaru dari suatu software, jadi rasanya gatal aja pengen update kalau liat versi terbaru sudah tersedia, padahal belum tentu butuh sih :P

Proses download paket kernel dari internet

Proses download paket kernel dari internet

Iseng2 liat update manager di Ubuntu eh ternyata udah ada beberapa paket yang sudah tersedia updatenya! tapi diliat2 sih nggak semuanya penting buat saya, malah beberapa ada yg nggak ngerti sama sekali fungsinya buat apa, tapi yg paling menggoda tentunya adalah update kernel :D di repo sudah tersedia kernel versi 2.6.27-11, sebelumnya di PC saya sudah terinstall versi 2.6.27-9. walaupun saya juga gak begitu ngerti apa saja yang berubah dari update ini, tapi yg penting di install saja, siapa tau memang ada perubahan signifikan, minimal bugfix dari versi sebelumnya.

Update kernel selesai, setelah terinstall sistem saya sekarang memiliki 2 kernel, yg versi update dan versi sebelumnya, tapi saya pikir ngapain juga nyimpen dua kernel gitu, akhirnya kernel lama saya hapus, jadi sekarang praktis saya pakai kernel yang baru untuk komputer saya.

Update selanjutnya adalah Virtualbox. baru sekitar 2 minggu lalu saya install Virtualbox 2.1.0 yang telah mendukung openGL, eh sekarang udah ada yg versi 2.1.2. wah langsung saja saya download dari situsnya dan buru2 install di komputer. tapi pas diliat2 nggak ada perubahan berarti sih di versi ini, tidak seperti sebelumnya yang menambahkan fitur2 baru seperti dukungan terhadap aplikasi 3D, dll. di versi ini hanyalah perbaikan beberapa bug yg ada sebelumnya, tapi nggak apa2 lah, yang pasti versi baru biasanya memberikan yang lebih baik.

Nah kebetulan pas iseng2 mampir ke openoffice.org ternyata versi terbaru dari OpenOffice sudah tersedia, yaitu versi 3.0.1, di komputer saya terinstall versi 3.0. kemungkinan besar sih nggak ada perubahan signifikan disini, tidak seperti lompatan dari versi 2.4 ke 3.0 yang punya penambahan fitur dan perubahan tampilan yang cukup terasa seperti dukungan terhadap file Ms Office 2007, di edisi terbaru sekarang paling hanya beberapa bugfix saja (sama seperti diatas). rencananya malam ini saya akan mengunduh openoffice versi terbaru, semoga koneksinya lagi lancar, biar nggak terlalu lama downloadnya.

Untuk urusan update memang tiap orang punya “gaya”nya sendiri, ada yg nggak gampang tergoda dan cenderung pakai versi yg stabil daripada yg terbaru (terbaru belum tentu stabil loh!), ada juga yg “terlalu mudah tergoda” dengan versi baru, sampai2 versi beta atau versi percobaan pun di embat juga. kalau saya sih milih yg versi terbaru tapi dengan status “release” atau “stable” bukan yg versi beta atau percobaan, soalnya ngapain juga buru2 tapi masih banyak bug, mending sabar dikit tapi sudah layak pakai. makanya saya nggak tergoda buat coba Ubuntu 9.04 yg masih beta maupun kernel terbaru (katanya sih udah versi 2.6.28-3) yg belum tentu stabil. tunggu saja tanggal mainnya, nanti juga keluar sendiri :) .

Written by Hielmy

4 Februari 2009 at 9:02 pm

Mencicipi Solaris 10

with 7 comments

Sudah cukup lama nih saya penasaran sama OS yang namanya Solaris. sebagai info saja Solaris adalah sebuah sistem operasi yang dikeluarkan Sun Microsytem (dulunya) untuk mesin2 keluaran Sun yang menggunajan prosesor SPARC. sudah bukan rahasia lagi kalau produk2 keluaran Sun memiliki harga yang mahalnya selangit, apalagi mesin2 (server) yang berasitektur SPARC harganya bisa mencapai ratusan juta, oleh karena itu hanya sedikit orang yg bisa merasakan ngoprek OS ini, karena memang cuma terinstall di mesin keluaran Sun dan hanya orang yang mempunyai hak akses saja yg bisa memakainya (baca:admin).

Mulai versi 10, Sun merilis Solaris secara gratis (sebelumnya berbayar dan cukup mahal) dan yang lebih menggembirakan kini Solaris telah mendukung prosesor arsitektur x86 yang merupakan prosesor standar desktop, artinya Solaris bisa diinstall di sembarang mesin desktop. bermodal rasa penasaran tadi, beberapa hari yang lalu saya mengunduh sistem operasi ini yang berupa file image DVD (.iso). Setelah di burn kemudian saya coba installkan di komputer saya, supaya aman saya install di virtualbox saja.

screenshot1Proses instalasi berjalan cukup lancar walaupun agak sedikit membingungkan, tapi kekurangan yang saya rasakan pas instalasi adalah prosesnya yg cukup lama, sekitar satu jam lebih! entah karena saya install di virtualbox atau memang dari sananya memang begitu.

Setelah proses instalasi selesai, komputer di restart dan munculah logon screen khas Solaris (kalau anda pernah mencoba openSolaris, tidak jauh beda). pada logon screen ini seperti sistem Unix/Unix-like lainnya, kita disuguhkan pilihan session, desktop apa yg akan kita pilih. pada Solaris 10 yang saya coba menyediakan 2 macam desktop yaitu Common Desktop Environmment (CDE) dan Sun Java Desktop System. tinggal pilih saja salahsatunya sesuai kebutuhan kita.

Apabila kita memilih desktop CDE kita akan disuguhkan desktop khas Unix klasik, jika anda termasuk orang yg sering bergelut dengan Unix pasti tidak asing dengan desktop ini, biarpun tampak sederhana dan jadul saya secara pribadi menyukai desktop ini, kesannya unix banget gitu loh! maklum saya nggak pernah ngoprek server jadi ketika disuguhkan desktop semacam ini serasa jadi admin saja :D

Desktop CDE pada Solaris 10

Desktop CDE pada Solaris 10

Desktop yang kedua adalah Sun Java Desktop System, secara sekilas tampilannya tidak jauh dari OS kebanyakan (Windows atau KDE/GNOME) dengan tombol peluncur aplikasi di kiri bawah (semacam start menu di Windows) dan tampilan ikon-ikon di desktopnya. tampilan desktop ini lebih modern dan “manusiawi” dibanding CDE, sangat cocok  digunakan untuk keperluan sehari2 (bukan sebagai server).

Desktop Sun JDS pada Solaris 10

Desktop Sun JDS pada Solaris 10

Berhubung OS ini dibuat untuk server dan mesin2 kelas berat, maka fitur2 unggulannya pun kebanyakan berkaitan dengan kebutuhan server maupun enterprise. salahsatu fitur unggulan dari Solaris adalah ZFS. ZFS ini adalah file system seperti halnya FAT maupun NTFS tapi memiliki fitur2 yang cukup menarik seperti snapshot untuk menyimpan catatan perubahan pada file sehingga apabila ada perubahan seperti file terhapus bisa dikembalikan. ZFS juga memiliki integritas yang bagus dan solid juga bisa menangani kapasistas yang hampir tak terbatas. jujur saya sendiri tidak tahu banyak tentang ZFS ini dan belum pernah mencobanya, yang saya sebutkan tadi baru sebatas referensi dari luar, bukan pengalaman pribadi, jadi CMIIW.

Menurut saya Solaris ini bukan OS yang mudah digunakan, apalagi jika menggunakan desktop CDE, akan banyak sekali kecanggungan dalam penggunaannya. perintah2 di shell-nya juga berbeda dengan Linux apalagi Windows, sehingga cukup pusing juga dalam menggunakannya, contoh saja saya mencoba ingin membuat user baru di Solaris namun belum bisa sampai sekarang, perintah di terminalnya agak sulit untuk dihafalkan :P *ngeles, padahal emang nggak ngerti*

Aplikasi yang disertakan sebenarnya sudah cukup untuk keperluan sehari2, untuk urusan perkantoran telah terinstall StarOffice 8, aplikasi ini dulunya adalah cikal bakal dari openoffice. kedua aplikasi perkantoran ini masih dikembangkan secara bersamaan, namun StarOffice dikembangkan sebagai perangkat lunak Proprietary, tidak open source. untuk browser juga telah tersedia firefox yang telah lengkap dengan plugin flash maupun java *pasti lah, namanya juga keluaran Sun*. aplikasi lain yang disertakan cukup banyak, seperti Thunderbird, Real player, JEdit, beberapa games, text editor, GIMP, dll. pokoknya untuk kebutuhan standar sudah mencukupi.

Jika dibandingkan dengan OpenSolaris, ada beberapa persamaan dan perbedaan. openSolaris adalah versi open source dari Solaris, bedanya openSolaris dikembangkan oleh komunitas dan disponsori oleh Sun. secara umum Solaris dan openSolaris sama saja, terutama untuk core maupun kernelnya adalah sama, yang paling jelas berbeda mungkin dari desktop dan aplikasi2 yang disertakan. jika Solaris menggunakan CDE dan Sun JDS, maka openSolaris lebih memilih dekstop yang berlisensi openSource yaitu GNOME. bagi pemakai Linux pasti tidak akan asing jika menggunakan openSolaris (untuk tampilannya), namun jika dioprek lebih dalam baru terasa bedanya solaris/openSolaris dengan Linux. berhubung saya tidak ngoprek terlalu dalam jadi rasanya hanya sedikit saja perbedaannya :D

Dengan dirilisnya Solaris secara gratis, setiap orang kini bisa turut mencicipi OS Solaris (termasuk saya) baik digunakan untuk desktop maupun server. jika digunakan sebagai desktop mungkin tidak akan terlalu terasa optimalnya, mungkin lain halnya jika digunakan sebagai server, baru deh terasa bedanya, tapi mungkin loh… soalnya saya nggak tau juga, megang server aja belum pernah :D .

Written by Hielmy

3 Februari 2009 at 9:27 pm

I Still Belive in You

with one comment

Pengantar

Ini lagu lama, dirilis sekitar tahun 1992. bagi saya ini lagu long lasting banget deh. biarpun sudah berumur diatas 15 tahun tapi saya belum bosan mendengarnya. selain itu ada kenangan tersendiri ketika saya kecil sering medengar lagu ini, ketika sekarang diputar lagi serasa kembali ke masa kecil. suara Vince Gill juga begitu khas,  country banget.

Video

video yang saya tampilkan adalah versi live dari lagu ini, saya cari yang versi video klipnya tapi susah. dari yang saya temukan ini yang paling bagus.

liriknya ada disini

Written by Hielmy

27 Januari 2009 at 1:51 pm

Ditulis dalam Hobi & Interest, Musik, Umum

Server Facebook

with 9 comments

Sebelum berpikir lebih jauh, saya kasih tau dulu kalau dalam tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana spesifikasi server Facebook, yang ada justru saya mau bertanya, cuma bingung ngasih judulnya apa. :D

Tau Facebook kan? tau donk! apa? nggak tau? harrrrreeee geneee??? gak gawool kalo ga tau. nah seperti kita tau yang namanya Facebook itu adalah situs social networking terbesar didunia dan yang paling penting itu TERCANGGIH! bagaimana tidak, facebook ini mempunyai fitur yang sangat banyak dan kompleks, bisa terhubung ke apapun, blog, microblog, mobile, dll lah… dan semuanya dikemas dengan kemasan yang sangat canggih, rapi, dan elegan. salut buat facebook.

Server Farm Facebook

Server Farm Facebook

Nah yang bikin saya penasaran itu seperti apa sih servernya? bayangkan saja yang dikerjakan server itu bukan cuma melayani query dan request buat halaman facebook aja, tapi ada foto, video, email, chat, advertisments, dll. suatu hari saya pernah baca laporan dari facebook engineer bahwa server mereka melayani 2-3 terabyte upload foto perhari, menampilkan 300.000 foto perdetik, dan mengelola lebih dari 15 milyar foto. bayangkan! itu baru urusan foto saja, belum email, tiap ada satu update dari facebook, ia mengirim email notifikasi kepada penggunanya, saya saja dalam 1 hari bisa lebih dari 100 email, kalikan saja dengan ratusan juta pengguna facebook!

Oke mungkin contohnya masih kurang, saya kasih contoh lagi nih, server chat facebook melayani berapa juta member yg online pada saat itu? belum lagi harus ada server yg mengurusi urusan messaging internal dalam FB, belum server yang menyimpan dan menayangkan video yg di upload, kemudian iklan yang selalu tampil di sisi kanan itu pasti butuh server tersendiri. wah… pokoknya banyak deh!

Yang bikin saya salut banget itu walaupun servernya berada di luar negri tapi aksesnya dari Indonesia bisa dibilang relatif cepat, padahal yang di load itu bukan halaman biasa, tapi halaman web dinamis dengan script yang cukup rumit (js, css, xhtml, dll lah…) yang biasanya membutuhkan waktu load cukup lama. sekali lagi salut deh!!! jadi kira2 ada yang tau nggak gimana spesifikasi dari server Facebook ini? maklum saya nggak terlalu ngerti urusan beginian, cuma bisa terheran2 saja… :D

Upadate:  tambahan foto server facebook diambil dari sini.

Written by Hielmy

26 Januari 2009 at 9:47 pm

Format Standar untuk Aplikasi Perkantoran

with 11 comments

Ternyata ketergantungan akan produk dari satu vendor (baca: Microsoft) masih tidak bisa lepas dari masyarakat di Indonesia, sebagai contoh untuk aplikasi perkantoran susah sekali untuk lepas dari Microsoft Office, ya… siapaun setuju kalau Ms Office itu mudah dan nyaman untuk digunakan, apalagi Office 2007 yang memiliki tampilan interface ribbon yang menawan dan mudah digunakan, tapi sayangnya kita terlalu bergantung pada satu produk dan seolah menutup mata untu melirik produk lain yang lebih terbuka.

Saya ambil contoh di lingkungan saya apabila saling bertukar berkas sangat jarang ditemukan format format file selain format dari Office yaitu .doc ataupun .docx, ketika saya memilih penggunakan format ODF malah menjadi kendala karena tidak bisa dibuka di tempat lain karena kebanyakan Ms Office yang mereka miliki tidak bisa membuka file ODF (.odt, .odp, .ods). sangat ironis bukan? secara gitu loh…format ODF itu telah disahkan menjadi format standar internasional oleh ISO, tapi secara de facto di lapangan yang jadi standar justru malah format dari Ms Office (.doc, .xls,.ppt) yang secara de jure bukan standar internasional.

ODF atau Open Document Format adalah standar format file untuk aplikasi perkantoran yang didukung oleh banyak aplikasi seperti OpenOffice, AbiWord, Lotus Symphony, Koffice, NeoOfficeStar Office, dll.  Secara legal  format ODF telah disahkan menjadi format standar internasional (oleh ISO) lebih dulu sebelum format dari Microsoft Office 2007 (Office Open XML) yang berekstensi .docx; .xlsx; .pptx disahkan juga menjadi standar setahun berikutnya. jika melihat fakta tersebut seharusnya ODF lebih populer dibanding format dari Ms Office, tapi seperti saya bilang sebelumnya, orang2 tidak mau beranjak dari zona nyamannya yang bertahun2 memakai Ms Office (walaupun bajakan) dan tidak mau menggantinya dengan apikasi yang mendukung format standar ODF.

Khusus untuk di Indonesia sepertinya penggunaan aplikasi bebas dan format standar juga belum didukung penuh oleh pemerintah, coba kita lihat, di kalangan pemerintahan sendiri format yang masih umum dipakai adalah format dari Microsoft yang artinya mau tidak mau aplikasi-nya juga harus menggunakan Ms Office, coba kalau mulai dari pemerintah mulai menerapkan standar nasional untu berkas perkantoran dengan ODF (seperti di negara2 lain), sehingga staff-staffnya mulai menggunakan OpenOffice (misalnya). dengan demikian kita tidak bergantung kepada satu produk yang jelas2 merupakan produk komersil, emang kita mampu beli lisensi segitu banyak untuk semua kantor pemerintahan se Indonesia? saya yakin sebagian besar malah masih bajakan. namun jika kita menggunakan ODF kita tidak terpaku pada satu aplikasi bahkan berbeda sistem operasi pun bisa. Lotus Symphony, OpenOffice, KOffice, AbiWord  adalah contoh aplikasi yang mendukung ODF yang bisa berjalan di berbagai sistem operasi, dan berita bagusnya aplikasi2 tadi merupakan aplikasi gratis dan bebas (freeware dan open source), sehingga biaya untuk pembelian lisensi bisa ditekan sampai nol.

Entah karena orang Indonesia yg konsumtif atau tidak mau susah untuk mempelajari hal baru, kita selalu terpaku pada satu aplikasi dan OS yang sama, saya berharap suatu saat ODF bisa menjadi standar menggantikan format file yang sekarang banyak digunakan, sehingga kalau kemana2, tukar2 berkas itu menggunakan format ODF, apapun aplikasinya, apapun sistem operasinya, kapan ya??

Written by Hielmy

24 Januari 2009 at 12:05 pm