Ambigram
Apa yang terpikir oleh anda melihat gambar diatas? biasa aja? ya memang tampak biasa saja sih, cuma gambar kaligrafi bertuliskan nama saya, “HIELMY”. Tapi ini bukan kaligrafi biasa, ini namanya Ambigram. Ambigram adalah suatu seni kaligrafi dimana gambar yang dihasilkan bukan hanya bisa dibaca dari satu arah, tetapi dari arah kebalikannya (diputar), tidak percaya? coba saja anda unduh gambar diatas (klik gambarnya untuk memperbesar) kemudian buka dengan editor gambar, lalu putar 180 derajat, pasti akan membentuk tulisan yang sama, yaitu nama saya. nah itulah uniknya ambigram. tapi tulisan yang dibaca kebalikannya itu tidak harus selalu tulisan yang sama loh, bisa juga beda, yang penting dapat terbaca.
Awalnya saya tidak tau apa itu ambigram, semalem saya chatting dengan teman saya Ardian, dia lagi tertarik sama seni satu ini, kemudian dia mengirimkan contoh sketsa ambigramnya yang dibuat secara manual dengan pensil di kertas, saya liat awalnya biasa aja, pas diputar.. ooo baru saya ngerti
. sebelum mengakhiri percakapan dia menwarkan membuatkan ambigram nama saya, sekalian belajar katanya. tadi pagi dia kirimkan hasil sketsanya, wah bagus juga. tapi namanya juga sketsa masih belum rapi, makanya saya coba untuk rapikan dan dibuat dengan format vector. sketsa tadi saya masukan ke Inkscape, kemudian di dijiplak dengan menggunakan line tool, dan akhirnya jadi deh sebuah file vector (.SVG) dari hasil sketsa tadi, kalau sudah format vector kan enak, lebih fleksibel dan bisa “diapa-apain”.
Seni ambigram unik juga, kreatif kalau saya bilang, karena selain harus berimajinasi bagaimana membuat suatu artwork yang “nyeni” juga harus memikirkan bagaimana bentuknya agar ketika diputar masih bisa berbentuk tulisan yang dapat dibaca pula, hebat lah…thanx buat Ardian udah bikinin ambigram nama saya. kamu emang berbakat
When LeVox meets Clarkson
Beberapa waktu lalu saya nemu video ini di Youtube, awalnya sih mau nyari2 video Rascal Flatts, eh ketemu yg lagi live featuring Kelly Clarkson, jadi penasaran gimana jadinya kolaborasi vokal Gary LeVox (vocalist Rascal Flatts) ketemu sama Kelly Clarkson? liat aja video ini sampe habis! si cewek yang agak ngerock ketemu cowok yang country banget…tapi jadinya keren loh… selamat menikmati
Rascal Flatts feat Kelly Clarson – What Hurts the Most (live)
Iseng: Qt Creator dan KamusQu
Dasar mahasiswa pengangguran! setelah kemarin nggak ada kerjaan menginstal solaris padahal megang server pun belum pernah, sekarang semakin iseng saja dengan mendownload IDE alias aplikasi pengembangan perangkat lunak terintegrasi, padahal saya sama sekali tidak mengerti bahasa pemrograman, hehe….
IDE yang saya coba kali ini adalah Qt creator. Bagi yang sehari2 menggunakan Linux pasti sudah tidak asing donk dengan Qt ini! Qt (baca:cute) adalah user interface toolkit untuk membangun antarmuka suatu aplikasi. contoh aplikasi paling sukses yang menggunakan Qt adalah KDE, KDE adalah lingkungan desktop untuk Linux dan Unix, seluruh antarmuka desktop plus segala aplikasi yg dibawanya menggunakan Qt. karena Qt hanyalah toolkit untuk interface, maka dalam mengembangkan sebuah aplikasi biasanya memerlukan lebih dari satu aplikasi, Qt designer untuk mendesain tampilannya (GUI) dan IDE lain untuk pemrogrammannya misalnya KDevelop.
Qt Creator adalah sebuah IDE ringan (gitu sih kata pembuatnya) yang mengintegrasikan Qt Designer plus C++ code editor, sehingga jika anda ingin membuat aplikasi berbasis Qt hanya butuh satu aplikasi ini saja, sehingga lebih terintegrasi dan mudah dalam pengembangannya. faktor ketertarikan saya akan program ini bukan karena ada fitur yg menarik atau semacemnya (karena memang nggak ngerti), tapi yang menarik perhatian saya justru adalah tampilannya. user interface Qt Creator ini begitu bagus, apalagi di lingkungan Linux sangat jarang mendapati aplikasi yang bertampang bagus.
Setelah mengunduh dari situsnya, saya langsung coba, wah ternyata asik juga! seandainya saya ini programmer pasti betah pakai ini, walaupun dari sisi fitur masih dibawah IDE lainnya (apalagi dibandingkan dengan Visual Studio, jauh!) tapi karena labelnya jg lightweight jadi bisa dimaklum. nah berhubung saya gak bisa koding, tidak mungkin donk saya bikin aplikasi dari awal, maka dari itu saya cari satu aplikasi open source yg bisa saya oprek, dan ketemu lah QamIDEN yang selanjutnya bertransformasi menjadi KamusQu setelah saya permak.
KamusQu
Dari hasil ngoprek2 itulah lahirlah sebuah aplikasi (yang tidak begitu) baru bernama KamusQu. KamusQu adalah program yang berfungsi sebagai penterjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. aplikasi ini dikembangkan dari QamIDEN yang berfungsi serupa. Secara fungsi kedua aplikasi ini tidak jauh berbeda, apalagi saya tidak banyak ngoprek di kodingnya, saya hanya mendesain ulang antarmukanya (UI) agar lebih intuitif (menurut saya) dan penggantian icon. selain itu, untuk memudahkan pengguna awam, aplikasi KamusQu menggunakan Bahasa Indonesia, jadi biar ketahuan kalau ini karya anak negri
Pemilihan nama KamusQu ini bukan tanpa alasan loh…. secara harfiah sudah bisa ditebak apa artinya, selain agar namanya terdengar lebih Indonesia. lalu kenapa bukan “kamusku”? karena ini dibuat dengan Qt toolkit, biar agak keliatan identitasnya, maka disisipkan huruf ‘Q’ ditengahnya. utuk database kamusnya KamusQu mengambil dari database SATUVisi Indict, kenapa? karena program QamIDEN mengambil database dari Indict dan merubahnya kedalam format SQLite yang digunakan oleh QamIDEN dan KamusQu sekarang.
KamusQu berlisensi GPL seperti induknya (QamIDEN), karena sesuai peraturan lisensi, aplikasi GPL boleh digunakan, dibagikan, disalin dan dimodifikasi secara bebas selama masih menyertakan kode sumber dan dokumentasi lisensi GPLnya itu sendiri. maka dari itu saya merilis KamusQu dengan lisensi GPL.
Karena ini cuma iseng2 saja, jangan terlalu berharap banyak akan fitur2 yang akan disediakan, apalagi saya tidak banyak nyentuh code C++nya, fiturnya hanya standar penterjemahan kata/frase dari bahasa Inggris ke Indonesia atau sebaliknya, itu saja. jika anda tertarik silahkan download berkas binary-nya yang dikompilasi untuk platform Linux, tidak usah di install, tinggal jalankan saja. untuk platform lain saya tidak bisa mengkompilasinya karena segala keterbatasan, maka dari itu saya berikan source code-nya untuk dikompilasi sendiri atau lebih bagus dikembangkan lebih lanjut, namanya jg open source
Semoga bermanfaat! *walaupun hasil iseng*
Download KamusQu:
Linux Binary (database included): Download (8.44 MB)
Source Code (database not included): Download (32 KB)
KamusQu di Google code: disini
Bahasa Sunda Sebagai Bahasa Ibu
Ketika pulang kampung kemarin, di bis saya melihat seorang ibu bersama seorang anak kecil berumur sekitar 5-6 tahun. yang menarik perhatian saya adalah si ibu itu berbicara dengan bahasa Indonesia ke anaknya, sedangkan ke orang lain dia berbahasa Sunda. saya yakin kejadian serupa juga tidak jarang dialami orang lain. lantas apa salahnya? nggak ada yang salah sih sebenarnya, cuma saya agak “prihatin” saja dengan orang tua jaman sekarang, terutama yang berada di daerah seperti kampung halaman saya yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu ketimbang bahasa Daerah (sunda) kepada anak2nya sedari mereka kecil.
Secara pribadi saya kurang setuju dengan pola pengajaran seperti itu, menurut saya untuk bahasa ibu sebaiknya diajarkan saja bahasa Daerah agar si anak lebih mencintai dan fasih berbahasa daerah, bukan tidak boleh berbahasa Indonesia, toh ini bahasa nasional dan setiap WNI memang harus bisa dan mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi untuk percakapan sehari2 apalagi di daerah yang notabene kesehariannya menggunakan bahasa sunda kenapa tidak diajarkan kepada anak2nya?
Saya sendiri kurang tahu apa motivasi orang tua membiasakan anaknya berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Sunda, apakah merasa malu kalau anaknya nanti terbiasa berbahasa sunda? apakah jika dalam percakapan sehari2 berbahasa Indonesia itu dibilang keren? ngota(ke-kota2an)? atau pengen dibilang gaul? nggak ngerti deh, yang jelas sekarang banyak sekali yang seperti itu, kalau orang tuanya memang tidak terbiasa berbahasa daerah saya bisa maklumi apabila anaknya juga agak kurang lancar berbahasa daerah, tapi yang sekarang banyak terjadi itu orang tua dan lingkungan jelas2 berbahasa sunda, kenapa HANYA kepada si anak saja mereka tidak berbahasa Sunda? ada yang salah dengan bahasa Sunda? teman2 saya saja yang katanya dari “kota” (Jakarta, Bandung, Bogor, dll) masih fasih berbahasa Sunda, karena walaupun lingkungannya tidak berbahasa Sunda tetapi dalam keluarga mereka diajarkan untuk berbahasa Sunda.
Saya pikir bahasa Indonesia itu tidak sulit kok untuk dipelajari, apalagi kalau hanya untuk percakapan sehari2, jadi tidak usah “mencekoki” anak HANYA berbahasa Indonesia saja, kenapa tidak diajarkan juga bahasa daerah? bukan melarang bahasa Indonesia, kalau diajarkan 2 bahasa apa salahnya? saya khawatir kalau dari kecil apalagi sejak anak belum bergaul ke dunia luar, si anak tidak diajari bahasa (dan budaya) daerah nantinya dia menjadi terasing di kampung sendiri, nggak ngerti bahasa daerah sendiri, nah kalau udah gini masihkah menganggap anak ini ngota, gaul dan modern? menurut saya TIDAK! justru anak ini menjadi kurang wawasan, kadar ke-gaul-an itu bukan hanya dinilai dari cara dia berbahasa (tidak menggunakan bahasa daerah), tetapi dari wawasan dan ilmu pengetahuannya, termasuk pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya daerahnya sendiri.
Saya sendiri jujur masih merasa sangat kurang dalam pengetahuan mengenai budaya dan bahasa daerah, untuk percakapan sehari2 memang 90% lebih saya berbahasa Sunda, tapi jika disuruh berbicara Sunda yang baik dan formal saya sendiri masih merasa belum sanggup, padahal saya dari kecil diajarkan berbahasa Sunda dan dalam keseharian berbahasa Sunda, nah sekarang coba pikir bagaimana kalau yang dari kecil saja sudah tidak diajarkan bahasa Sunda? bisa dibayangkan kan? tapi semoga ini hanya menjadi kekhawatiran saya saja, siapa tahu pengetahuan mereka jauh melebihi pengetahuan orang2 seangkatan saya, semoga.
Saya sarankan sih, kepada para orang tua yang ada di wilayah priangan (dan ber-etnis sunda tentunya), sebaiknya mengajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, ini untuk melatih anak agar terbiasa berbahasa daerahnya sendiri dan menimbulkan rasa kebanggaan dalam berbahasa Sunda, sudah sering saya ketemu ABG jaman sekarang yang susah sekali diajak berbahasa Sunda, walaupun mereka mengerti apa yg saya ucapkan tapi mereka seperti enggan untuk melayani pembicaraan dalam bahasa Sunda, miris sekali. jangan2 mereka malah tertawa jika diperdengarkan lagu2 daerah, malah mengejek apabila mendengar musik degung dan merasa “gengsi” menonton wayang golek. mungkin orang tua sebaiknya lebih seimbang dalam mengajarkan hal2 yang berbau kedaerahan dengan pengetahuan dan budaya nasional maupun internasional, contohnya dalam berbicara mungkin bisa secara bilingual, Sunda dan Indonesia, sehingga anak2 akan lebih terbiasa menggunakan kedua bahasa itu.
Tapi ini memang benar2 cuma opini pribadi saya, bukan tidak mungkin ada juga yang tidak setuju dengan opini saya ini, jika ada silahkan berbagi disini.
Update…update…update!!!
Berhubung saya ini orangnya termasuk “new version horny” *halah..istilah baru* alias mudah tergoda kalau liat versi terbaru dari suatu software, jadi rasanya gatal aja pengen update kalau liat versi terbaru sudah tersedia, padahal belum tentu butuh sih
Iseng2 liat update manager di Ubuntu eh ternyata udah ada beberapa paket yang sudah tersedia updatenya! tapi diliat2 sih nggak semuanya penting buat saya, malah beberapa ada yg nggak ngerti sama sekali fungsinya buat apa, tapi yg paling menggoda tentunya adalah update kernel
di repo sudah tersedia kernel versi 2.6.27-11, sebelumnya di PC saya sudah terinstall versi 2.6.27-9. walaupun saya juga gak begitu ngerti apa saja yang berubah dari update ini, tapi yg penting di install saja, siapa tau memang ada perubahan signifikan, minimal bugfix dari versi sebelumnya.
Update kernel selesai, setelah terinstall sistem saya sekarang memiliki 2 kernel, yg versi update dan versi sebelumnya, tapi saya pikir ngapain juga nyimpen dua kernel gitu, akhirnya kernel lama saya hapus, jadi sekarang praktis saya pakai kernel yang baru untuk komputer saya.
Update selanjutnya adalah Virtualbox. baru sekitar 2 minggu lalu saya install Virtualbox 2.1.0 yang telah mendukung openGL, eh sekarang udah ada yg versi 2.1.2. wah langsung saja saya download dari situsnya dan buru2 install di komputer. tapi pas diliat2 nggak ada perubahan berarti sih di versi ini, tidak seperti sebelumnya yang menambahkan fitur2 baru seperti dukungan terhadap aplikasi 3D, dll. di versi ini hanyalah perbaikan beberapa bug yg ada sebelumnya, tapi nggak apa2 lah, yang pasti versi baru biasanya memberikan yang lebih baik.
Nah kebetulan pas iseng2 mampir ke openoffice.org ternyata versi terbaru dari OpenOffice sudah tersedia, yaitu versi 3.0.1, di komputer saya terinstall versi 3.0. kemungkinan besar sih nggak ada perubahan signifikan disini, tidak seperti lompatan dari versi 2.4 ke 3.0 yang punya penambahan fitur dan perubahan tampilan yang cukup terasa seperti dukungan terhadap file Ms Office 2007, di edisi terbaru sekarang paling hanya beberapa bugfix saja (sama seperti diatas). rencananya malam ini saya akan mengunduh openoffice versi terbaru, semoga koneksinya lagi lancar, biar nggak terlalu lama downloadnya.
Untuk urusan update memang tiap orang punya “gaya”nya sendiri, ada yg nggak gampang tergoda dan cenderung pakai versi yg stabil daripada yg terbaru (terbaru belum tentu stabil loh!), ada juga yg “terlalu mudah tergoda” dengan versi baru, sampai2 versi beta atau versi percobaan pun di embat juga. kalau saya sih milih yg versi terbaru tapi dengan status “release” atau “stable” bukan yg versi beta atau percobaan, soalnya ngapain juga buru2 tapi masih banyak bug, mending sabar dikit tapi sudah layak pakai. makanya saya nggak tergoda buat coba Ubuntu 9.04 yg masih beta maupun kernel terbaru (katanya sih udah versi 2.6.28-3) yg belum tentu stabil. tunggu saja tanggal mainnya, nanti juga keluar sendiri
.
Mencicipi Solaris 10
Sudah cukup lama nih saya penasaran sama OS yang namanya Solaris. sebagai info saja Solaris adalah sebuah sistem operasi yang dikeluarkan Sun Microsytem (dulunya) untuk mesin2 keluaran Sun yang menggunajan prosesor SPARC. sudah bukan rahasia lagi kalau produk2 keluaran Sun memiliki harga yang mahalnya selangit, apalagi mesin2 (server) yang berasitektur SPARC harganya bisa mencapai ratusan juta, oleh karena itu hanya sedikit orang yg bisa merasakan ngoprek OS ini, karena memang cuma terinstall di mesin keluaran Sun dan hanya orang yang mempunyai hak akses saja yg bisa memakainya (baca:admin).
Mulai versi 10, Sun merilis Solaris secara gratis (sebelumnya berbayar dan cukup mahal) dan yang lebih menggembirakan kini Solaris telah mendukung prosesor arsitektur x86 yang merupakan prosesor standar desktop, artinya Solaris bisa diinstall di sembarang mesin desktop. bermodal rasa penasaran tadi, beberapa hari yang lalu saya mengunduh sistem operasi ini yang berupa file image DVD (.iso). Setelah di burn kemudian saya coba installkan di komputer saya, supaya aman saya install di virtualbox saja.
Proses instalasi berjalan cukup lancar walaupun agak sedikit membingungkan, tapi kekurangan yang saya rasakan pas instalasi adalah prosesnya yg cukup lama, sekitar satu jam lebih! entah karena saya install di virtualbox atau memang dari sananya memang begitu.
Setelah proses instalasi selesai, komputer di restart dan munculah logon screen khas Solaris (kalau anda pernah mencoba openSolaris, tidak jauh beda). pada logon screen ini seperti sistem Unix/Unix-like lainnya, kita disuguhkan pilihan session, desktop apa yg akan kita pilih. pada Solaris 10 yang saya coba menyediakan 2 macam desktop yaitu Common Desktop Environmment (CDE) dan Sun Java Desktop System. tinggal pilih saja salahsatunya sesuai kebutuhan kita.
Apabila kita memilih desktop CDE kita akan disuguhkan desktop khas Unix klasik, jika anda termasuk orang yg sering bergelut dengan Unix pasti tidak asing dengan desktop ini, biarpun tampak sederhana dan jadul saya secara pribadi menyukai desktop ini, kesannya unix banget gitu loh! maklum saya nggak pernah ngoprek server jadi ketika disuguhkan desktop semacam ini serasa jadi admin saja
Desktop yang kedua adalah Sun Java Desktop System, secara sekilas tampilannya tidak jauh dari OS kebanyakan (Windows atau KDE/GNOME) dengan tombol peluncur aplikasi di kiri bawah (semacam start menu di Windows) dan tampilan ikon-ikon di desktopnya. tampilan desktop ini lebih modern dan “manusiawi” dibanding CDE, sangat cocok digunakan untuk keperluan sehari2 (bukan sebagai server).
Berhubung OS ini dibuat untuk server dan mesin2 kelas berat, maka fitur2 unggulannya pun kebanyakan berkaitan dengan kebutuhan server maupun enterprise. salahsatu fitur unggulan dari Solaris adalah ZFS. ZFS ini adalah file system seperti halnya FAT maupun NTFS tapi memiliki fitur2 yang cukup menarik seperti snapshot untuk menyimpan catatan perubahan pada file sehingga apabila ada perubahan seperti file terhapus bisa dikembalikan. ZFS juga memiliki integritas yang bagus dan solid juga bisa menangani kapasistas yang hampir tak terbatas. jujur saya sendiri tidak tahu banyak tentang ZFS ini dan belum pernah mencobanya, yang saya sebutkan tadi baru sebatas referensi dari luar, bukan pengalaman pribadi, jadi CMIIW.
Menurut saya Solaris ini bukan OS yang mudah digunakan, apalagi jika menggunakan desktop CDE, akan banyak sekali kecanggungan dalam penggunaannya. perintah2 di shell-nya juga berbeda dengan Linux apalagi Windows, sehingga cukup pusing juga dalam menggunakannya, contoh saja saya mencoba ingin membuat user baru di Solaris namun belum bisa sampai sekarang, perintah di terminalnya agak sulit untuk dihafalkan
*ngeles, padahal emang nggak ngerti*
Aplikasi yang disertakan sebenarnya sudah cukup untuk keperluan sehari2, untuk urusan perkantoran telah terinstall StarOffice 8, aplikasi ini dulunya adalah cikal bakal dari openoffice. kedua aplikasi perkantoran ini masih dikembangkan secara bersamaan, namun StarOffice dikembangkan sebagai perangkat lunak Proprietary, tidak open source. untuk browser juga telah tersedia firefox yang telah lengkap dengan plugin flash maupun java *pasti lah, namanya juga keluaran Sun*. aplikasi lain yang disertakan cukup banyak, seperti Thunderbird, Real player, JEdit, beberapa games, text editor, GIMP, dll. pokoknya untuk kebutuhan standar sudah mencukupi.
Jika dibandingkan dengan OpenSolaris, ada beberapa persamaan dan perbedaan. openSolaris adalah versi open source dari Solaris, bedanya openSolaris dikembangkan oleh komunitas dan disponsori oleh Sun. secara umum Solaris dan openSolaris sama saja, terutama untuk core maupun kernelnya adalah sama, yang paling jelas berbeda mungkin dari desktop dan aplikasi2 yang disertakan. jika Solaris menggunakan CDE dan Sun JDS, maka openSolaris lebih memilih dekstop yang berlisensi openSource yaitu GNOME. bagi pemakai Linux pasti tidak akan asing jika menggunakan openSolaris (untuk tampilannya), namun jika dioprek lebih dalam baru terasa bedanya solaris/openSolaris dengan Linux. berhubung saya tidak ngoprek terlalu dalam jadi rasanya hanya sedikit saja perbedaannya
Dengan dirilisnya Solaris secara gratis, setiap orang kini bisa turut mencicipi OS Solaris (termasuk saya) baik digunakan untuk desktop maupun server. jika digunakan sebagai desktop mungkin tidak akan terlalu terasa optimalnya, mungkin lain halnya jika digunakan sebagai server, baru deh terasa bedanya, tapi mungkin loh… soalnya saya nggak tau juga, megang server aja belum pernah
.














21 komentar