Arsip untuk November, 2008|Halaman arsip bulanan

Shutdown Timer Pada Ubuntu

Mungkin suatu waktu anda pernah mengalami hal begini, komputer harus tetap nyala karena masih melakukan suatu proses (misalnya download atau sedang me-render video) tetapi anda tidak bisa terus di depan komputer, misalnya harus tidur atau pergi keluar. jika ditinggalkan begitu saya komputer akan tetap menyala walaupun proses yang dikerjakan telah selesai, hal ini tentunya tidak efisien dan boros listrik. nah solusinya adalah dengan mengatur waktu shutdown, sehingga walaupun ditinggalkan komputer akan mati dengan sendirinya sesuai waktu yang ditentukan misalkan proses download akan selesai dalam 2 jam, maka waktu shutdown dapat di set pada waktu 2 jam. pada OS windows hal ini dapat dilakukan dengan bantuan program pihak ketiga (third party) karena secara default Windows tidak menyediakan aplikasinya, biasanya saya menggunakan program bernama “shutter” yang gratis, namun bagaimana dengan Linux?

Oke saya akan sedikit berbagi tips terutama bagi pengguna awam dan pemula di dunia Linux seperti saya (yang udah geek pasti udah tau :P ). mengatur waktu shutdown di linux sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah, tanpa program tambahan. kita hanya perlu melakukannya melalui terminal, caranya begini: buka terminal melalui menu application>accessories>terminal (pada ubuntu/GNOME desktop), setelah terbuka lalu ketikan perintah berikut:
$ sudo shutdown -option -time messeges

oke berikut penjelasannya, perintah sudo adalah perintah untuk masuk ke mode root, kemudian ketik shutdown dan diikuti oleh option dan time setelah itu bisa pula ditambahkan opsi messege atau pesan. untuk opsi-nya sendiri bisa dipilih dari beberapa pilihan sebagai berikut:
-r reboot atau restart
-h halt atau matikan power setelah shutdown
-H hampir sama dengan pilihan diatas
-P power off setelah shutdown (hampir sama juga)
-c batalkan perintah shutdown sebelumnya
-k hanya tampilkan pesan (messege)
-q, atau --quiet meminimalisir tampilan di terminal
-v, atau --verbose menampilkan informasi lebih lengkap
--help menampilkan bantuan

kemudian untuk time-nya sendiri bisa menggunakan tanda +(xx menit) atau jika ingin menentukan mati pada jam berapa bisa dengan tanda +(jam:menit) dalam satuan 24 jam. oke mungkin anda masih bingung, kita langsung ke contoh saja. misalkan anda ingin mematikan komputer dalam waktu 30 menit kedepan, cukup ketikan perintah berikut di terminal:
$ sudo shutdown -p +30

dengan demikian dalam 30 menit kedepan komputer anda akan mati dengan sendirinya, atau contoh lain misal anda ingin me-reboot komputer pada jam 11:30 dengan menambahkan pesan di akhirnya “setengah duabelas komputer ini akan di reboot”, perintahnya sebagai berikut:
$ sudo shutdown -r +11:30 setengah duabelas komputer ini akan di reboot

contoh penggunaan terminal untuk shutdown timer

contoh penggunaan terminal untuk shutdown timer

dengan perintah tersebut maka komputer akan restart pada waktu yang telah ditentukan, dan menampilkan pesan seperti yang telah diketikan. anda bisa juga membatalkan perintah shutdown tadi dengan mengetikan :
$ sudo shutdown -c

dengan demikian semua perintah shutdown yang telah diberikan akan dibatalkan. gampang kan? dengan mengatur waktu shutdown ini kita bisa dengan nyaman meninggalkan komputer dalam keadaan hidup, karena dia telah diatur kapan akan mematikan mesin dengan sendirinya. selamat mencoba.

Chatting Facebook Via Pidgin

Setelah bermigrasi menggunakan Ubuntu praktis segala aplikasi yang biasa dipakai di Windows berubah menjadi Linux based, memang sih beberapa ada yang berupa aplikasi multiplatform seperti Adobe Reader yang menyediakan veri Linux maupun Windows, namun kebanyakan aplikasi yang ada di Windows jarang ada versi Linux-nya secara native, walaupun masih bisa “diakali” dengan menjalankannya di Linux dengan bantuan Wine. tapi secara fungsional di Linux banyak aplikasi yang “serupa” sebagai pengganti atau alternatif dari aplikasi yang berada di windows. salah satu aplikasi yang sering saya gunakan namun tidak ada di Linux adalah Yahoo Messenger, sedangkan di Linux saya menggunakan Pidgin. sebenarnya Yahoo sempat mengeluarkan YM untuk Linux, namun terhenti sampai pertengahan tahun 2005 dan tidak ada versi baru sampai sekarang. makanya saya lebih memilih memakai Pidgin (selain karena hanya aplikasi ini yang dipaketkan dalam distro-nya :D )

Mungkin untuk pemakaian awal yang belum terbiasa memakai pidgin akan sangat tidak nyaman, dari segi tampilan pidgin kalah jauh dibanding Yahoo Messenger. begitupun dengan saya, tapi untungnya ini bukan pertama kalinya saya pakai Pidgin, di Windows saya kadang2 memakai aplikasi ini juga karena dia bekerja lebih cepat (terutama saat login) dan memakan resource komputer lebih ringan daripada YM.

Fitur yang menarik dari pidgin ini adalah kemampuannya menangani multi account. artinya dia bukan hanya bisa menangani chatting via YM tapi juga melalui jaringan MSN, Google Talk, ICQ, AIM, IRC, Gadu-gadu, MySpace Chat,dll. fitur ini tentunya tidak dimiliki oleh Yahoo messenger. namun ada satu account yang saya rasa cukup penting bagi saya karena cukup sering menggunakannya namun tidak tersedia di pidgin yaitu Facebook chat. layanan chatting dari facebook ini memang secara resmi hanya tersedia di websitenya yaitu ketika kita login ke situs facebook dan fasilitas ini dapat ditemukan di bagian bawah halaman facebook. saya sempat terpikir wah kalau di pidgin bisa buka chatting facebook asik kali ya? eh setelah googling akhirnya ketemu juga, ternyata ada semacam plugin untuk pidgin yang bisa menambah kemampuan pidgin agar bisa menangani facebook chat. wah ini yang saya cari!! namanya “pidgin-facebook” yang bisa di unduh disini. plugin ini dikemas dalam paket .deb dan bisa di install di ubuntu dengan baik, saya belum tahu kalau di install di distro lain (.deb package). setelah saya coba ternyata berhasil, pada account manager ada satu account baru yang bisa diambahkan yaitu facebook dan setelah login, pada buddy list akan muncul satu group baru dengan nama facebook.

Tambahan account baru di pidgin yaitu Facebook

Tambahan account baru di pidgin yaitu Facebook

Wah makin asik saja nih saya pake linux, ga usah ribet, satu Instant messenger untuk semua, sekarang di pidgin saya mengaktifkan beberapa account diantaranya Yahoo!, Gtalk, MSN/Live messenger dan tentunya facebook. hemat dan praktis, dengan demikian saya tidak harus selalu membuka halaman facebook untuk dapat bercakap2 dengan teman2 di facebook. penasaran? silahkan coba sendiri :P

Selamat Datang Ubuntu

Alhamdulillah senangnya, akhirnya saya “resmi” menjadi pengguna Linux, senang kenapa? karena pada akhirnya saya menggunakan software yang 100% legal dan ternyata setelah dicoba Linux itu nyaman dan tangguh. berawal dari rasa penasaran saya untuk menginstall Linux di PC saya, seperti yang diceritakan pada tulisan sebelumnya, saya mencobanya di mesin virtual dengan bantuan VirtualBox, tapi lama2 rasa penasaran itu semakin menjadi-jadi, rasanya saya ingin menggunakan Linux ini lebih serius, bermodal nekat saya persiapakan lahan di hardisk saya dengan mempartisinya dengan sistem file Linux (ext3 dan swap). untuk pilihan distro saya jatuh ke Ubuntu, awalnya sih tidak begitu tertarik karena tampilannya yang sederhana, tapi karena banyak pertimbangan lain (nanti saya ceritakan di posting selanjutnya) akhirnya saya pilih Ubuntu.

Ketika pertama menginstall saya melakukan kesalahan yang cukup fatal dan beresiko (kehilangan data), kesalahan itu adalah ketika pemilihan partisi yang akan di isi Linux, sebelumnya memang saya sudah siapkan, tapi karena ketidak tahuan saya, saya malah memilih “automatic” ketika disodorkan pertanyaan dalam memilih partisi, nah karena “cerdasnya” si installer Ubuntu ini,  akhirnya dia milih sendiri partisinya, dan partisi dokumen saya jadi korban, dia pecah partisi itu dan buat sendiri partisi baru untuk Linux, sedangkan partisi yang saya buat tidak diliriknya, alhasil hardisk saya berantakan, partisi yang sudah disiapkan tidak dipakai malah dia memilih membuat lagi partisi baru (dan swap-nya tentunya). duh… sempet stress waktu itu, tapi modal nekat dan rasa penasaran yang tinggi, saya format ulang partisi tadi, saya merge kembali dengan partisi sebelumnya (dokumen), kemudian berbekal ilmu dari paman gugel saya install ulang dan saya pilih manual pada saat memilih partisi, kali ini isntalasi berjalan sukses sesuai harapan. senangnya… :D

setelah beres instalasi tentunya hal selanjutnya yang dilakukan adalah eksplorasi, butuh waktu 2 hari untuk saya agar membuat Ubuntu ini pas dihati. bukan apa2, bermacam2 kendala saya lalui, terutama kendala yang paling terasa adalah masalah display driver, kadang karena salah setting membuat ubuntu saya tidak bisa masuk dan hanya ada layar blank berwarna hitam, akibatnya saya harus memformat kembali dan menginstall ulang dari awal, untungnya instalasi Ubuntu sangat-sangat mudah, bahkan lebih mudah dari windows, dan yang pasti lebih cepat, hanya butuh waktu 30 menit dari nol sampai dia bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. sangat mudah dan cepat.

Dekstop Ubuntu di PC saya (klik untuk memperbesar)

Dekstop Ubuntu di PC saya (klik untuk memperbesar)

Sampai tulisan ini dibuat saya masih betah menggunakan ubuntu, setelah di otak atik tampilannya akhirnya saya menemukan tampilan yang cocok dan nyaman buat saya, itu yang penting, agar saya betah memakainya. karena jujur saja saya kurang begitu suka dengan tampilan default ubuntu yang serba coklat itu. nggak modern, kuno, dll lah… oh iya untuk masalah tampilan, dengan bantuan program Compiz-fusion, tampilan ubuntu tidak kalah cantik dari windows vista, bahkan menurut saya lebih bagus dari vista. dengan desktop 3D yang bisa diputar2, efek2 cahaya, air, api maupun efek windows yang lentur mirip jelly membuat kita betah memakainya (baca: memainkannya :D ), tapi sayang ada satu kendala lagi di komputer saya, dengan mengaktifkan compiz ini, terasa sangat berat di PC saya, katanya sih driver VGA saya tidak cocok, hal ini cukup menganggu kenyamanan saya dalam ber-ubuntu *halah.. istilah apa itu?*, tapi anehnya yang terasa berat pada saat scrolling aja, misal pada saat browsing atau membuka OpenOffice.org. oleh karena itu saya memilih menonaktifkan Compiz, tapi segitu pun masih membuat saya nyaman kok, selain tampilannya lebih cantik dari XP juga rasanya lebih kenceng.

Tampilan Desktop 3D Cube

Tampilan Desktop 3D Cube

Tampilan Shift Switcher

Tampilan Shift Switcher

Singkat cerita, saya sudah mulai bermigrasi ke software yang lebih legal, handal dan nyaman. dengan mencoba ubuntu ini, anggapan negatif saya sebelumnya terhadap Linux menjadi terpatahkan, Linux itu susah? nggak juga tergantung mau ngoprek apanya? kalau cuma untuk kebutuhan sehari2 sudah cukup nyaman, hanya belum terbiasa saja. jadi bagi yang belum pernah mencoba, tidak ada salahnya mencoba dulu, tidak usah takut, kalau takut salah, coba aja versi Live CD dulu, kalau ingin rada serius tapi takut kehilangan data atau merusak partisi? bisa coba menginstall menggunakan Wubi. dengan Wubi, Ubuntu bisa di install dari windows layaknya sebuah aplikasi. jadi tidak ada alasan untuk tidak mencoba, jika belum sekaranglah saatnya, ayo kita dukung gerakan penggunaan software legal dan bebas, dimulai dari diri kita sendiri, sekarang.

Ubuntu dan VirtualBox

Dua hari belakangan saya disibukan oleh “mainan” baru di komputer saya, yang pertama adalah Virtualbox, ini adalah sebuah aplikasi virtualisasi  untuk menjalankan sebuah sistem operasi (guest) dalam sistem operasi (host). sebelum menemukan virtualbox ini saya dulu menggunakan Microsoft Virtual PC, sayangnya Virtual PC hanya berjalan baik ketika menginstall OS Windows didalamnya, sedangkan ketika mencoba install Linux selalu gagal. kalo Windows dalam Windows kan nggak seru! lagipula saya sekarang sedang belajar menggunakan Linux, rencana jika sudah “bisa” saya akan bermigrasi menggunakan sistem operasi Open Source tersebut. kembali ke virtualbox, setelah saya coba ternyata banyak sekali kelebihan yang dimiliki dibandingkan dengan Virtual PC, selain berjalan baik dalam menjalankan berbagai OS, juga memiliki banyak fungsi yang cukup menarik.

Sistem operasi yang saya coba instalkan kali ini adalah Ubuntu Linux. dulu saya sudah punya CD Ubuntu 7.10 yang diberikan secara cuma-cuma oleh Canonical melalui program ShipIt, tapi sayang rasanya sudah telalu “jadul” versi itu, saya ingin coba versi terbaru, tapi kalau nunggu kiriman CD dari Canonical kelamaan (bisa2 3-4 minggu) akhirnya saya putuskan untuk download sendiri. berbekal sedikit kopi untuk bergadang, tepat tengah malam saya mulai unduh file ISO Ubuntu terbaru (8.10, codename: Interpid Ibex), setelah itu saya tinggal tidur. ternyata tidak sampai 3.5 jam proses mengunduh selesai juga (Sekitar 700MB). pagi harinya lagsung saya install di VirtualBox. sebelumnya saya pernah mencoba2 berbagai macam distro Linux, tapi belum menemukan yang cocok dihati, tapi entah kenapa saya masih penasaran sama Ubuntu ini, padahal kalo dilihat tampilan awalnya sih tidak begitu menarik (kalah cantik sama distro lain yang pakai KDE dekstop).

Tampilan awal Ubuntu 8.10 Interpid Ibex (dari softpedia)

Tampilan awal Ubuntu 8.10 Interpid Ibex (dari softpedia)

Setelah di install tampak tampilan desktop default (bawaan) dengan warna coklat khas-nya. sepintas tidak ada perbedaan dengan versi-versi sebelumnya. saya termasuk orang yang awam (bisa juga disebut buta) akan Linux, bahkan cara install aplikasi pun saya masih bingung. makanya saya belum berani bermigrasi karena hal paling mendasarpun saya belum paham, tapi sekarang saya niatkan untuk belajar bener2, bukan cuma buka2 liveCD terus reboot dan kembali ke Windows. setelah terinstall saya coba2 explore Ubuntu ini, hmm hal yang saya paling suka adalah software-software yang ada didalamnya relatif baru (pastinya!), jadi tidak usah khawatir ketinggalan jaman. nah ada satu fitur menarih dari Virtualbox yang saya suka, namanya “seamless mode”, dengan mode ini OS guest dan Host bisa berdampingan dalam satu desktop secara bersamaan, jadi tampilannya seperti menyatu dalam satu OS, padahal itu merupakan dua OS yang berbeda. namun tidak semua OS yang di install di virtualbox bisa melakukan mode ini, dan beruntung Ubuntu yang saya install termasuk yang mendukung fitur ini.

Seamless Mode

Seamless Mode, Ubuntu dan Windows dalam satu desktop tampak akur ^_^

Seharian saya otak-atik Ubuntu yang baru saya kenal ini, dan saya bisa ambil kesimpulan: Ubuntu ini gampang! ya… bagi anda yang takut dan menjadikan Linux sebagai “momok” saya sarankan mencoba Ubuntu, walaupun sekilas tampilannya biasa aja, tapi dibalik itu banyak kemudahan yang tersedia, ambil contoh dalam menginstall sebuah program ubuntu memiliki Synaptic Package manager yang akan memudahkan kita dalam menginstall aplikasi, atau bisa juga hanya mengklik ganda file package berekstensi .deb maka program akan terinstall dengan mudah. rasanya lebih mudah dari windows malahan, saya sampe senyum2 sendiri ketika mencobanya, “wah semudah ini toh” dalam hati saya berkata ketika mencobanya, bukan apa2, soalnya saya selalu “parno” ketika melihat tampilan linux, duh ini pasti rumit, harus ketik ini ketik itu di terminal untuk melakukan sesuatu. tapi tidak demikian di ubuntu (walaupun memang bisa sih sebenernya), Ubuntu memang ditargetkan untuk semua orang, jadi faktor kemudahan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan, dengan ini rasanya saya mulai jatuh cinta sama ubuntu, jika nanti bermigrasi ke Linux sepertinya saya akan menjadi seorang pengguna Ubuntu.

Faktor lain kenapa saya memilih ubuntu adalah masalah tampilan, memang desktop Gnome tampak lebih sederhana jika dibandingkan dengan KDE, namun yang saya suka dari ubuntu adalah tampilannya yang simpel tapi nyaman, terutama font2nya. soalnya saya pernah beberapa kali mencoba distro linux seperti PCLinuxOS atau Knoppix, biarpun tampak modern tapi font dan icon-nya kok kerasa “Linux banget” ya? iya sih ini cuma masalah selera, lagian masalah icon sih gampang masih bisa diganti2. tapi pas saya lihat ubuntu rasanya saya langsung merasa lebih nyaman, selain itu untuk mengatasi “kesederhanaan” gnome bisa diakali dengan desktop enhancement yang tersedia banyak di internet, seperti yang saya lakukan setelah seharian otak-atik saya pun sudah bisa sampai dandani desktop sehingga sesuai dengan selera saya, dan sayapun merasa betah memakainya.

Ubuntu 8.10 dalam jendela VirtualBox dengan tampilan yang saya modifikasi menjadi mirip MacOS X

Ubuntu 8.10 dalam jendela VirtualBox dengan tampilan yang saya modifikasi menjadi mirip MacOS X

Namun dibalik semua “kesuksesan” saya dalam menginstall Ubuntu dalam VirtualBox, masih ada beberapa kekurangan yang rasanya belum bisa diatasi, pertama adalah saya tidak bisa mengaktifkan visual effect di ubuntu yang (katanya) bisa membuat orang terkesan, mungkin ini disebabkan oleh graphic adapter yang terdeteksi adalah VirtualBox video, bukan VGA asli secara fisik (punya saya ATI Radeon), sehingga fitur tersebut tidak bisa diaktifkan, yang kedua adalah saya masih bingung bagaimana cara mengaktifkan folder sharing antara OS Host dengan Guest, ada yang bisa membantu? sampai sekarang saya benar2 masih kebingungan nih. oh iya untuk menginstall sebuah OS dalam sistem kita dengan menggunakan VirtualBox, disarankan untuk memiliki resource yang cukup memadai, karena ini sama saja dengan menjalankan 2 komputer dengan satu mesin, yang perlu diperhatikan terutama adalah memory, disarankan menggunakan RAM 2 GB untuk menjaga kenyamanan dalam berkomputer.

sepertinya saya tinggal memperdalam lagi nih belajar Linux sampai nanti akhirnya saya putuskan untuk benar2 pindah dari WIndows ini. bagi yang tertarik silahkan mencoba dan rasakan sendiri ke-asyikannya. bener deh… :D

Sumbangan 6 juta Dollar itu…

okezone

baru saja saya baca berita di okezone tentang keberhasilan Wikimedia foundation mengumpulkan dana sumbangan sebesar 6 juta Dollar Amerika. tapi rasanya kok banyak yang janggal ya? pertama, setahu saya sumbangan yang dikumpulkan itu belum mencapai 6 juta dollar, yang ada adalah target pengumpulan dana sebesar 6 juta dollar, sedangkan yang berhasil terkumpul sekarang sekitar 2 juta dollar lebih. berikut saya perlihatkan tangkapan layar dari header situs wikipedia mengenai dana sumbangan tersebut:

wikipedia

itu wartawannya yang dodol ato emang saya yg nggak up to date ya? setau saya yg dimaksud “our goal : $6 Million” itu adalah target pencapaian, bukan dana yg berhasil diraih saat ini, lagian disampingnya jelas-jelas tertera progress bar yang menunjukan dana yang terkumpul baru sekitar 2 juta dollar.

kemudian keanehan kedua adalah di okezone disebutkan dana yang terkumpul tadi sebesar 6 juta dollar atau sekitar 6 miliar rupiah. hmm… baru tahu kalau kurs dollar sekarang Rp. 1000/1USD. iya kan? coba aja itung, 6.000.000 dollar x 1.000 = 6.ooo.ooo.ooo rupiah alias 6 miliar. wew…. apa mereka nggak bisa ngitung atau gimana ya? harusnya kan kalau 6 juta dollar itu minimal 66 miliar rupiah (dengan asumsi 1USD=11.000 rupiah). kalaupun dana yang terkumpul sekarang saja sudah 2 juta dollar, itu artinya sudah sekitar 22 miliar rupiah donk. duh kok situs berita sekelas okezone masih bisa bikin berita yang asal-asalan gitu ya? apa saya yg ga tau/ga ngerti? (tar takut disangka “sok pintar” lagi kayak di posting sebelumnya, wkakakaka….)

ah namanya juga manusia tidak pernah lepas dari kesalahan (alibi klasik, hehehe… kabuuurrrr… :D )

Scam Apple Corp.

Tertawa! itulah reaksi saya pas barusan nerima email masuk ke inbox saya. entah kenapa minggu ini banyak banget spam yang lolos ke inbox, sampai-sampai saya “mendedikasikan” dua buah posting blog membahas spam ini. eh barusan ada lagi yang masuk, selain bersifat Spam email ini juga bisa disebut Scam *sekem kalo kata bos adinoto mah* alias penipuan. nih kutipan email tersebut:

From:
Jakarta Promotion <jkt.applecorp@asia.com>

Subject: GRATIS – HP iPhone3G dari Apple Corp.

To:

 
Pelanggan yang terhormat,
Kami beritahukan kepada
seluruh pelanggan bahwa perusahaan kami, Apple Corporation yang
berkantor pusat di Cupertino, California US membuka kantor pemasaran di
Jakarta, Indonesia

Produk yang kami pasarkan
adalah Hand Phone tipe iPhone3G yang dilengkapi dengan teknologi GPS,
Wi-Fi, bluetooth, video-audio, camera-photo, 16GB flash drive capacity,
dll.

Details produk kami
silakan kunjungi:
http://www.apple.com/iphone/specs.html
Untuk peluncuran perdana
di
Indonesia, kami akan memberikan
secara gratis produk terbaru HP iPhone3G yang dilengkapi features
seperti diatas.

Dengan memberikan
iPhone3G ini, kami berharap akan mendapatkan umpan balik yang berharga
dari para pelanggan dan mendapatkan efek promosi berantai yang besar.

Yang harus anda lakukan
adalah:

 
-       Fowardkan pesan ini
kepada 20 orang teman. Setelah 2 minggu waktu pengiriman, anda akan
menerima sebuah iPhone3G.      Sebelumnya kami akan mengontak anda
untuk alamat detail pengiriman, atau

-       Forwardkan pesan ini
kepada 40 orang, anda akan menerima 2 produk: 1 bh iPhone3G + 1 bh iPod
classic berkapasitas 120GB. Detail produk iPod classic kunjungi:
http://www.apple.com/ipodclassic/
Harap dikirimkan sebuah
copy / Cc email kepada:
jkt.applecorp@asia.com agar kami mengetahui
bahwa anda telah memforward pesan ini.

 
Hormat kami,
Julia Christvanie
Regional Sales Manager
Apple Corporation – Jakarta  Office
Sudirman Square Office Tower, Tower B Lt. 23
JI. Jend Sudirman Kav.
45-46 Jakarta Selatan 12930

Email: jkt.applecorp@asia.com 

tapi sayang penipunya kelas kacangan dan tolol. gimana nggak coba, dia nipu dengan mengaku-ngaku sebagai representasi Apple di Indonesia (jakarta tepatnya) tapi pakai alamat email yg bukan dari domain perusahaannya, dia pakai alamat [jkt.applecorp@asia.com], wkakakakak… what? asia.com? Apple Corp? hahaha.. saya cuma bisa ketawa-ketawa aja bacanya. sejak kapan apple nggak punya domain sehingga harus pake domain asia.com untuk alamat emailnya?

dalam isi emailnya tersebut disebutkan dengan memforward email tersebut ke sejumlah orang maka kita akan mendapat HP iPhone keluaran Apple, wah siapa yg nggak ngiler coba? tapi apa hubungannya Apple Corps. sama iPhone? lah Apple Corps. itu kan perusahaan musik dari Inggris, nyang punya itu dulunya The Beatles. wakakak…. bodoh banget deh penipunya, ngaku2 dari perusahaan komputer Apple tapi pake nama Apple Corp. kalo perusahaan komputer itu namanya Apple Inc. hati-hati jangan sampai tertukar yah. duh kasian yang ketipu, udah buang-buang waktu buat forward email itu, dan yang paling parah adalah rasa malu yang harus ditanggung karena ketipu scam murahan semacam itu… ckckck.. kasian sekali mereka.

Sinkronisasi Google Calendar dengan Thunderbird

Google Calendar adalah aplikasi berbasis web yang berguna untuk mencatat agenda kegiatan sehari-hari kita. dengan demikian kegiatan anda sehari-hari akan lebih teorganisir dengan baik. Google Calendar dilengkap dengan reminder yang dapat diatur sesuai kebutuhan, bisa berupa pop up maupun dikirim melalui email, sehingga anda tidak akan lupa akan agenda yang sudah dituliskan. seperti telah disebutkan sebelumnya, Google calendar ini merupakan aplikasi berbasis web, sehingga untuk menggunakannya anda harus membukanya dari browser. bagi sebagian orang mungkin hal tersebut menjadi kendala karena kurang nyaman, selain itu interface yang ditampilkan tidak begitu menarik. tapi anda tidak usah khawatir, sekarang Google Calendar bisa diakses melalui aplikasi dekstop dengan bantuan Mozilla Thunderbird.

Mungkin ada bertanya-tanya, kok Thunderbird? itu kan aplikasi email client? ya anda benar, thunderbird adalah aplikasi email client, namun dengan tambahan add-on yang bernama lightning, maka thunderbird anda bisa berubah menjadi aplikasi Personal Information Manager (PIM) sehingga tidak kalah dengan Microsoft Outlook yang mahal dan berat itu :D . sebagai informasi saja, Lightening adalah versi add on dari Sunbird. Sunbird adalah aplikasi PIM stand alone yang terpisah dari Thunderbird yang sama-sama dikeluarkan oleh Mozilla. keuntungan menggunakan aplikasi Calendar versi desktop adalah kenyamanannya selain itu fitur-fitur yang diberikan juga lebih canggih, namun kelemahannya, aplikasi maupun data calendar anda disimpan di komputer lokal (hardisk) sehingga jika anda tidak berada dekat dengan komputer tersebut anda akan kesulitan mengakses agenda yang telah dituliskan dalam kalender tersebut, lain halnya dengan aplikasi berbasis web, agenda yang anda tulis bisa diakses dari mana saja selama ada browser dan koneksi internet (bisa dari warnet, kantor maupun tempat lain). namun dengan menggabungkan Google Calendar dengan Thunderbird yang sudah dilengkapi Lightning, kedua keuntungan tersebut dapat disatukan. nah bagaimana langkah-langkah setupnya? ikuti panduan berikut…. Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »