Arsip untuk Februari 19th, 2007|Halaman arsip harian
Kartu “Perek” Masih musim?
Lagi-lagi mau ngomongin trend nih…sekitar tahun 2005-an di daerah saya (rumah maupun lingkungan kuliah) para pemilik counter selular berlomba2 menjual kartu perdana super murah. bayangkan saja, satu paket perdana yang seharusnya di jual 15 ribu mereka jual sekitar 6-7 ribu saja, dengan pulsa terisi 10.000 rupaih. melihat hal tersebut, otomatis masyarakat, terutama mahasiswa langsung menyerbu counter2 tersebut untuk membeli kartu perdana super murah, bahkan tidak sedikit yang membeli lebih dari satu paket. hal yang paling menarik bagi pembeli tentu saja harga jualnya yang jauh di bawah nilai nominal yang tercantum pada kemasannya, bahkan ada yang menjual hanya 4500 rupiah!
Sayangnya kartu perdana tersbut kebanyakan tidak dipakai sebagaimana mestinya, biasanya para konsumen hanya memakainya sebagai kartu “perek”, bispak, jablay atau apalah sebutannya. julukan itu didapat karena memang kartu perdana tersebut hanya dipakai sekali saja, jadi jika pulsa bawaan yang terisi didalamnya sudah habis mereka langsung membuang kartunya tersebut. terus kenapa konsumen lebih memilih membeli kartu perdana daripada voucher isi ulang?yah seperti disebutkan di atas, harganya jauh lebih murah dari nilai nominalnya, sedangkan voucher biasanya lebih mahal dari nilai nominalnya, sehingga para konsumen lebih memilih kartu perdana ” sekali pakai”.
Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?…
Komentar (8)





